Mengenal Jemparingan, Olahraga Panahan Tradisional Khas Mataram Sambil Duduk Bersila

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 7 September 2025 | 20:48 WIB
turnamen Jemparingan di Yogyakarta (Pemprov DI Yogyakarta)
turnamen Jemparingan di Yogyakarta (Pemprov DI Yogyakarta)

KLIK SAJA – Jika umumnya olahraga memanah dilakukan dengan posisi tubuh berdiri tegak atau menaiki kuda, maka di tanah Jawa, memiliki variasi dimana teknisnya dilakukan dengan cara duduk bersila.

Olahraga panahan tradisional khas Mataram Jawa ini dinamakan Jemparingan.

Jemparingan gaya Mataram Ngayogyakarta telah ada sejak masa Kerajaan Mataram.

Olahraga panahan tradisional ini diperkenalkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, raja pertama Yogyakarta yang juga dikenal sebagai Pangeran Mangkubumi sekaligus pendiri Keraton Yogyakarta.

Beliau mendorong masyarakat Yogyakarta untuk mempelajari Jemparingan sebagai sarana menanamkan watak kesatria.

Watak kesatria yang dimaksud adalah empat nilai utama yang diwariskan Sultan, yakni konsentrasi atau sawiji, semangat atau greget, rasa percaya diri atau sengguh, serta tanggung jawab yang diwujudkan dalam ora mingkuh.

Pada mulanya Jemparingan hanya dimainkan di kalangan keluarga kerajaan dan dijadikan perlombaan di antara para prajurit.

Namun seiring berjalannya waktu, olahraga ini menyebar dan semakin dikenal hingga akhirnya dimainkan pula oleh masyarakat biasa.

Dari sekadar permainan internal kerajaan, Jemparingan kini menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dilestarikan.

Kata jemparing sendiri berarti anak panah. Dalam praktiknya, olahraga ini menggunakan busur yang disebut gandewa dengan sasaran berbentuk silinder menggantung yang dinamakan wong-wongan atau bandulan.

Sasaran ini biasanya berukuran sekitar tiga puluh sentimeter dengan diameter tiga hingga lima sentimeter, kemudian diberi warna horizontal untuk melambangkan bagian tubuh manusia.

Bagian atas dicat merah sebagai simbol kepala, di bawahnya diberi warna kuning atau jingga untuk melambangkan leher, sedangkan bagian yang lebih besar di bawahnya berwarna putih sebagai lambang badan.

Sebuah bola kecil digantung pada bagian bawah sasaran yang justru akan mengurangi poin bila terkena panah, sementara lonceng kecil yang digantung di bagian atas akan berbunyi bila sasaran berhasil terpanah.

Keunikan Jemparingan juga terletak pada gaya memanahnya. Para pemanah diwajibkan duduk bersila, memegang busur secara horizontal di depan perut, dan tidak membidik dengan mata seperti panahan modern.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X