wisata

Serunya Pacuan Kuda Tradisional Gayo, Derap Adrenaline di Atas Awan

Selasa, 26 Agustus 2025 | 20:45 WIB
Para Joki Muda di Pacuan Kuda Gayo (tribunnews)

KLIK SAJA - Pacuan Kuda Tradisional Gayo merupakan salah satu tradisi budaya yang hingga kini tetap lestari di Tanoh Gayo, Aceh.

Acara ini rutin digelar dua kali setiap tahun di Kabupaten Aceh Tengah, yakni pada bulan Februari untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Takengon, serta pada bulan September dalam rangka HUT Kemerdekaan Republik Indonesia.

Seiring dengan pemekaran wilayah, Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Gayo Lues juga turut menggelar pacuan kuda setahun sekali.

Dengan demikian, kuda-kuda dari tiga kabupaten inilah yang selalu meramaikan ajang pacuan kuda terbesar di dataran tinggi Gayo.

Tradisi pacuan kuda di Tanoh Gayo diyakini telah ada jauh sebelum masa penjajahan Belanda. Pada masa lalu, masyarakat menggelar pacuan kuda sebagai wujud rasa syukur atas panen padi yang biasanya berlangsung pada bulan Agustus hingga September.

Saat itu, kuda yang dipacu adalah kuda pembajak sawah, dengan arena sederhana di lapangan terbuka, termasuk di pinggir Danau Lut Tawar, tepatnya di kawasan Pante Menye, Kecamatan Bintang.

Ketika Belanda masuk ke Tanoh Gayo, tradisi ini kemudian dimanfaatkan pemerintah kolonial untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina, tetap berlangsung antara Agustus hingga September.

Namun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, konsep penyelenggaraan pun bergeser: pacuan kuda tidak lagi untuk merayakan ulang tahun Ratu Belanda, melainkan sebagai pesta rakyat memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pacuan kuda Gayo memiliki daya tarik tersendiri. Para joki yang dikenal dengan sebutan joki cilik umumnya masih duduk di bangku SMP.

Mereka dengan lincahnya menunggang kuda tanpa pelana, sehingga menambah sensasi keberanian dan keunikan lomba ini.

Kuda-kuda yang digunakan pun merupakan hasil persilangan breeding antara kuda lokal Gayo dengan kuda Australia. J

ika dahulu kuda Gayo terkenal kecil, kini generasi kuda hasil persilangan tersebut sudah berpostur lebih tinggi dan gagah.

Kabupaten Aceh Tengah dengan ibu kota Takengon dikenal dengan sebutan “Negeri di Atas Awan”, “Dataran Tinggi Tanoh Gayo”, serta “Negeri Antara”.

Wilayah ini bukan hanya terkenal dengan tradisi pacuan kudanya, tetapi juga dengan kekayaan alamnya, seperti kopi Gayo yang sudah mendunia, panorama Danau Lut Tawar, serta udara sejuk khas pegunungan.

Halaman:

Tags

Terkini