Menjelang senja, siapa pun yang terkena “pschuuri” akan terlihat dengan wajah berminyak yang sepenuhnya berubah warna.
Malam Hari: Pesta dan Perjamuan
Ketika malam tiba, sepasang pemuda yang menyamar sebagai “Männli” (laki-laki) dan “Wibli” (perempuan) kembali berkeliling desa sambil membawa keranjang.
Mereka mengumpulkan telur dan mengundang para gadis berwajah hitam ke sebuah pesta rakyat.
Pesta berlangsung di sebuah gudang tua, di mana penduduk berkumpul untuk menikmati sajian salad telur dan minuman tradisional lokal bernama Resimäda.
Musik dan tawa menghiasi malam hingga lewat tengah malam, menjadikan Pschuuri sebagai perayaan penuh warna yang merayakan budaya, komunitas, dan sejarah lokal.
Tradisi “Pschuuri” telah dikritik di beberapa kalangan karena dianggap kontroversial.
Namun bagi penduduk lokal, perayaan ini adalah bagian dari identitas budaya yang telah diwariskan selama berabad-abad dan tetap dijaga sebagai warisan tradisional Alpen.***