Di dalamnya terdapat sanggar seni yang menjadi wadah pelestarian budaya dan proses regenerasi.
Masyarakat Dayak Kanayat’n juga dikenal terampil membuat anyaman dari daun untuk dijadikan topi caping dan tas tradisional.
Sebagian besar warga Dayak Kanayat’n bermata pencaharian sebagai peladang dan penyadap karet.
Sebelum memulai musim tanam, mereka biasanya melakukan ritual sembahyang sebagai bentuk penghormatan terhadap alam.
Segala aktivitas sosial dan budaya, termasuk pengambilan keputusan penting, biasanya dilakukan di dalam rumah ini.
Maka dari itu Rumah Betang bagi suku Dayak bukan sekadar bangunan, tetapi simbol kehidupan kolektif yang harmonis.
Keberadaannya menjadi penanda kuat akan jati diri dan warisan budaya suku Dayak yang patut dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang.***