wisata

Mengenal Sejarah Kota Sawahlunto, Kawasan Tambang Batu Bara Jaman Hindia Belanda

Minggu, 1 Desember 2024 | 05:30 WIB
Monumen Mbah Suro di kawasan tambang Sawahlunto (Kompas)

Hingga tahun 1898, usaha tambang di Sawahlunto masih mengandalkan narapidana atau pemberontak yang dipaksa bekerja untuk menambang dan dibayar dengan harga murah, serta diawasi para mandor pribumi yang kejam.

Salah satu mandor yang terkenal di jaman itu adalah Mbah Suro, dimana ia sering bertindak kejam dengan para pekerja tambang.

Hingga di tahun 1889, pemerintah Hindia Belanda mulai membangun jalur kereta api menuju Kota Padang untuk memudahkan transportasi pengangkutan batu bara keluar dari Kota Sawahlunto.

Pada tahun 1894 akhirnya pembangunan jalur kereta api tersebut selesai , sehingga semenjak keberadaan transportasi kereta api mulai dioperasikan produksi batu bara di kota ini terus mengalami peningkatan hingga mencapai ratusan ribu ton per tahun.

Baca Juga: 4 Tempat Paling Angker di Britania Raya, Salah Satunya Markas Drakula

Semenjak tahun 1918, Sawahlunto telah berstatus gemeente (kota), namun belum sempat menjadi stadsgemeente walau hingga tahun 1930, wilayah ini memiliki penduduk yang sangat ramai.

Pada tanggal 10 Maret 1949, Sawahlunto bersamaan dengan wilayah kabupaten Solok, kota Solok,  kabupaten Sijunjung dan kabupaten Dharmasraya sekarang, ditetapkan menjadi Afdeeling Solok yang dipimpin oleh seorang bupati.

Kemudian pasac kemerdekaan, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 menetapkan status Sawahlunto  menjadi daerah tingkat II dengan sebutan Kotamadya Sawahlunto dan mulai dipimpin oleh seorang wali kota.

Sebagai informasi, kawasan bekas tambang batu bara di Sawahlunto yang dikenal lubang Mbah Suro, telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.***

Halaman:

Tags

Terkini