Mengenal Sejarah Kota Sawahlunto, Kawasan Tambang Batu Bara Jaman Hindia Belanda

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 1 Desember 2024 | 05:30 WIB
Monumen Mbah Suro di kawasan tambang Sawahlunto (Kompas)
Monumen Mbah Suro di kawasan tambang Sawahlunto (Kompas)

KLIK SAJA - Banyak kita yang tak banyak tahu bahwa pada jaman Hindia Belanda, daerah Sumatera Barat adalah salah satu penghasil batu bara terbesar di Asia pada jaman itu.

Salah satu kota di Sumatera Barat yang menjadi ‘lumbung batu bara’ pada jaman tersebut adalah kota Sawahlunto

Awal mula dijadikannya Sawahlunto sebagai kota terkait dengan penelitian yang dilakukan oleh beberapa geolog asal Belanda ke pedalaman daerah Minangkabau.

Pertengahan abad 19 pihak Hindia Belanda memang mulai sering melakukan eksplorasi geologi ke berbagai daerah di Nusantara, untuk menggali potensi ekonomi pada setiap wilayah.

Baca Juga: 4 Pantai Paling Aneh di Dunia, Serasa di Planet Lain

Hingga pada tahun 1867, Gubernur Jenderal Hindia Belanda memerintahkan Ir. C. De Groot van Embden untuk melakukan penelitan geologi di Minangkabau.

Lalu penelitian tersebut dilanjutkan oleh Ir. Willem Hendrik de Greve pada tahun 1867.

Hal mengejutkan ditemukan dalam penelitian De Greve, dimana disinyalir terdapat 200 juta ton batu bara yang terkandung di sekitar aliran Batang Ombilin, salah satu sungai yang ada di Sawahlunto.

Maka setelah penelitian tersebut dikomunikasikan ke pemerintah Batavia pada tahun 1870, maka dimulailah perencanaan pembangunan sarana dan prasarana yang dapat memudahkan eksploitasi batu bara di Sawahlunto.

Hingga akhirnya Sawahlunto juga diresmikan sebagai kota pada tahun 1888, tepatnya pada tanggal 1 Desember yang kemudian akhirnya  ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Sawahlunto.

Hanya butuh 4 tahun dalam pembangunan awal, kawasan ini sudah mampu memproduksi batu bara sejak tahun 1892.

Baca Juga: Sulitnya Berjalan Kaki di Kota-Kota India, Mirip-Mirip Seperti Indonesia

Maka dalam perkembangannya, kawasan sepi ini mulai menjadi kawasan pemukiman pekerja tambang, dan terus berkembang menjadi sebuah kota kecil dengan penduduk yang didominasi pegawai dan pekerja tambang.

Alih-alih kawasan seperti nagari-nagari pada umumnya di daerah Minangkabau yang memegang erat nilai tradisional, Sawahlunto justru kota yang tumbuh dari budaya multikultural para pekerja tambang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Tags

Rekomendasi

Terkini

X