KLIK SAJA - Cidomo—singkatan dari cikar, dokar, dan motor—merupakan moda transportasi khas yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Dahulu, kendaraan ini digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari mengangkut barang hingga mengantar penumpang dari satu tempat ke tempat lain.
Seiring berkembangnya pariwisata, cidomo mengalami transformasi. Dari sekadar alat transportasi, kini ia menjelma menjadi daya tarik wisata yang unik.
Banyak pengunjung tertarik merasakan sensasi berkeliling Lombok dengan cidomo, terutama saat mengunjungi destinasi populer seperti Pantai Senggigi dan Pura Batu Bolong.
Hingga hari ini, cidomo tetap bertahan sebagai ikon mobilitas di Lombok. Bahkan, rasanya belum lengkap berkunjung ke kawasan Gili tanpa mencobanya.
Di tengah maraknya kendaraan modern, keberadaan cidomo tetap dijaga sebagai bagian penting dari warisan budaya dan sejarah lokal.
Nama “cidomo” sendiri mencerminkan perpaduan unsur transportasi: cikar dan dokar (atau delman) sebagai bentuk dasar kendaraan, serta “motor” yang merujuk pada gagasan penggerak.
Namun dalam praktiknya, cidomo tetap menggunakan tenaga kuda, bukan mesin, sebagai penarik utamanya.
Baca Juga: Termangu Keindahan Gili Nanggu di Lombok Barat, Panorama Pasir Putih Berpadu Laut Biru Tenang
Sejarahnya dapat ditelusuri hingga akhir abad ke-19, pada masa kolonial Belanda. Saat itu, dokar—kereta kuda beroda empat—menjadi alat transportasi umum di Lombok.
Memasuki awal abad ke-20, pengaruh teknologi mulai hadir dan mendorong berbagai modifikasi. Dari sinilah berkembang bentuk transportasi khas yang kemudian dikenal sebagai cidomo.
Delman sendiri merupakan kendaraan tradisional yang sudah ada sejak era Hindia Belanda, digerakkan oleh kuda dan dikendalikan oleh seorang kusir.
Nama “delman” diambil dari Charles Theodore Deeleman, sosok yang disebut-sebut sebagai pencetusnya.
Di Lombok, delman berkembang dengan ciri khas tersendiri hingga menjadi cidomo seperti yang dikenal saat ini.