Menilik Sejarah Taman Jayengrono Surabaya, Saksi Bisu Pertempuran 10 November 1945

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Kamis, 26 Maret 2026 | 22:29 WIB
Taman Jayengrono dengan latar belakang bekas Gedung Internatio (tripadvisor)
Taman Jayengrono dengan latar belakang bekas Gedung Internatio (tripadvisor)

KLIK SAJA – Bagi warga arek Surabaya keberadaan Taman Jayengrono memiliki keistimewaan tersendiri, utamanya dalam aspek kesejarahan.

Selain dibangun pada jaman Hindia Belanda, taman ini menjadi saksi bisu pertempuran 10 November 1945 yang ikonik.

Taman Jayengrono merupakan salah satu ruang terbuka hijau yang sarat nilai sejarah di kawasan utara Surabaya.

Pada masa kolonial, taman ini dikenal dengan nama Taman Willemsplein, diambil dari nama Raja Belanda, Willem.

Pembangunannya berlangsung sekitar tahun 1900 hingga 1916 sebagai bagian dari penunjang kompleks karesidenan.

Secara strategis, Taman Willemsplein terletak di sisi belakang kantor residen (Burgemeester), yang pada masa itu dihuni oleh pejabat setingkat wali kota.

Lokasinya juga berdekatan dengan kawasan ikonik Jembatan Merah, yang sejak dulu menjadi pusat aktivitas penting di Surabaya.

Di sebelah barat taman, berdiri gedung Internationale Crediten Handelvereeniging, lembaga keuangan yang turut menghidupkan kawasan tersebut.

Sementara itu, di sisi utara berjajar kawasan industri di sepanjang bantaran Kalimas. Beberapa di antaranya adalah Artileri Constructie Winkel, pabrik uang dan senjata yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya PT Pindad.

Baca Juga: Serunya Melihat Kereta Api Melintas di Taman Rasam Purwokerto

Seiring berjalannya waktu, lanskap kawasan ini mengalami banyak perubahan. Kantor Gouverneur van Oost Java telah lama dirobohkan dan kini menjadi Jalan Rajawali.

Meski begitu, taman ini tetap bertahan dan kini dikenal sebagai Taman Jayengrono. Sementara kantor pemerintahan dipindahkan ke Balai Kota di Jalan Jimerto sekitar tahun 1920.

Namun, nilai penting Taman Jayengrono bukan hanya terletak pada sejarah kolonialnya.

Taman ini juga menjadi saksi bisu perjuangan heroik arek-arek Suroboyo dalam Pertempuran 10 November 1945.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X