Mengenal Tradisi Pongot Suku Gayo, Ketika Seni Menangis Berpadu Prosa Nan Puitis

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Sabtu, 14 Maret 2026 | 22:46 WIB
Tradisi Pongot dalam acara festival seni budaya di Gayo Lues (youtube)
Tradisi Pongot dalam acara festival seni budaya di Gayo Lues (youtube)

Dalam tradisi pernikahan masyarakat Gayo dikenal istilah “juelen”, yang secara harfiah berarti jual. Istilah ini merujuk pada bentuk pernikahan di mana mempelai perempuan (inen mayak) masuk ke dalam keluarga mempelai laki-laki (aman mayak).

Setelah pernikahan berlangsung secara juelen, mempelai perempuan dianggap telah “diserahkan” sepenuhnya kepada keluarga suaminya.

Dalam pandangan tradisional, ia tidak lagi diharapkan tinggal atau merawat orang tuanya seperti sebelumnya.

Bagi orang tua mempelai perempuan, momen ini sering kali terasa sangat mengharukan. Ada perasaan kehilangan karena anak perempuan yang mereka besarkan kini akan menjalani kehidupan baru bersama keluarga suaminya.

Karena itulah, dalam upacara pernikahan masyarakat Gayo, pongot menjadi ungkapan emosi yang sangat kuat, terutama bagi pihak keluarga perempuan.

Sementara dalam peristiwa kematian, pongot biasanya disampaikan oleh kerabat almarhum saat mereka melayat di rumah duka sebelum jenazah dimakamkan.

Tradisi ini dipercaya telah ada sejak masa sebelum Islam masuk ke tanah Gayo. Namun setelah ajaran Islam berkembang luas di kalangan masyarakat Gayo, tradisi pongot dalam kematian perlahan mulai ditinggalkan.

Baca Juga: Mengenal Manre Sipulung, Tradisi Makan Bersama Khas Bugis yang Sarat Nilai Kekeluargaan

Hal ini karena dalam ajaran Islam, meratapi kematian secara berlebihan dianggap sebagai perbuatan yang tidak dianjurkan.

Oleh sebab itu, para ulama mengajak masyarakat untuk meninggalkan tradisi pepongoten dalam konteks kematian.

Bagi masyarakat Kabupaten Gayo Lues, pongot telah lama menjadi bagian dari tradisi yang membumi. Namun di tengah perkembangan zaman, keberadaannya mulai menghadapi berbagai tantangan.

Saat ini semakin sedikit generasi muda yang memahami dan mampu melantunkan pongot. Berkurangnya penutur tradisi lisan, minimnya regenerasi, serta perubahan cara pandang masyarakat terhadap budaya menjadi faktor yang memengaruhi kelestarian tradisi ini.

Jika tidak dijaga dan diwariskan dengan baik, bukan tidak mungkin tradisi pongot akan semakin jarang ditemui di masa depan.

Saat ini, pihak pemerintah daerah Gayo Lues selalu mengadakan kompetisi Pongot dalam acara festival seni budaya tiap tahunnya.

Karena itu, upaya pelestarian budaya—baik melalui pendidikan, dokumentasi, maupun kegiatan budaya—menjadi langkah penting agar pongot tetap hidup sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Gayo.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X