Menelusuri Jejak Kerajaan Galuh di Candi Cangkuang Garut, Bukti Artefak Hindu Tanah Pasundan

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Selasa, 10 Februari 2026 | 20:43 WIB
Candi Cangkuang (atourin)
Candi Cangkuang (atourin)

Penelitian dan penggalian kemudian dilakukan pada tahun 1967 hingga 1968. Pada tahap awal, sekitar 40% batu-batu candi yang tersebar di sekitar lokasi dikumpulkan untuk diteliti sebelum dilakukan pemugaran.

Setelah melalui kajian mendalam, para ahli memutuskan untuk melakukan pemugaran Candi Cangkuang pada tahun 1974 hingga 1976.

Pemugaran dilakukan dengan memanfaatkan sekitar 60% batu asli yang ditemukan, ditambah dengan batu baru yang dicetak menyerupai bentuk aslinya.

Setelah pemugaran selesai pada tahun 1976, Candi Cangkuang diresmikan sebagai salah satu warisan budaya.

Dari segi arsitektur, Candi Cangkuang memiliki bentuk yang sederhana namun tetap elegan. Bangunan candi terbuat dari batu andesit dan batu merah, dengan bentuk dasar persegi empat dan atap bertingkat, ciri khas arsitektur candi Hindu-Buddha di Pulau Jawa.

Candi ini berdiri di atas lahan berukuran 4,7 × 4,7 meter. Kaki bangunan, yang terdiri atas pelipit padma, pelipit kumuda, dan pelipit pasagi, memiliki ukuran 4,5 × 4,5 meter dengan tinggi mencapai 1,37 meter.

Tubuh candi berbentuk persegi empat dengan ukuran 4,22 × 4,22 meter dan tinggi 2,49 meter. Pada bagian puncak terdapat dua tingkat berbentuk persegi empat.

Tingkat pertama berukuran 3,8 × 3,8 meter dengan tinggi 1,56 meter, sedangkan tingkat kedua berukuran 2,74 × 2,74 meter dengan tinggi 1,1 meter.

Semoga Candi Cankuang dapat terus dilestarikan anak bangsa sebagai pengingat kejayaaan masa lampau tanah Pasundan.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X