Mengenal Kerang Terompet, Moluska Laut yang Bisa Dijadikan Alat Musik Tradisional

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 8 Februari 2026 | 12:00 WIB
pelajar memainkan Tahuri atau Kerang Terompet (pariwisata Indonesia)
pelajar memainkan Tahuri atau Kerang Terompet (pariwisata Indonesia)

Struktur cangkang inilah yang kemudian dimodifikasi menjadi tahuri, menghasilkan suara yang kuat dan bergema ketika ditiup.

Di balik penampilannya yang indah, kerang terompet adalah pemangsa tangguh. Makanannya meliputi bulu babi, moluska lain, dan berbagai jenis bintang laut.

Salah satu mangsa favoritnya adalah bintang laut mahkota berduri (Acanthaster plancii), spesies yang dikenal merusak terumbu karang.

Baca Juga: Mengenal Ligawka, Alat Musik Tiup Sebesar Gading Gajah dari Polandia

Kerang trompet mampu melumpuhkan mangsanya menggunakan radula—struktur menyerupai lidah bergigi yang berfungsi mencabik dan mengikis jaringan tubuh mangsa.

Karena kemampuannya memangsa bintang laut perusak karang, kerang terompet berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang.

Antara Budaya dan Konservasi

Selain dimanfaatkan sebagai alat musik tradisional di Maluku, kerang terompet juga kerap dijadikan dekorasi.

Di sejumlah wilayah seperti Jepang, Maladewa, dan Hawaii, cangkangnya bahkan digunakan sebagai alat musik tiup serupa trompet.

Namun, keindahan bentuknya membuat kerang terompet rentan diburu. Pada 1994, Australia mengusulkan agar Charonia tritonis dimasukkan ke dalam daftar CITES (Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah).

Usulan tersebut akhirnya ditolak karena dinilai belum didukung data perdagangan yang memadai.

Meski demikian, kesadaran akan pentingnya perlindungan spesies ini terus meningkat. Beberapa negara, termasuk Australia dan India, telah menetapkan kerang terompet sebagai spesies yang dilindungi, mengingat perannya yang krusial bagi ekosistem laut.

Dari alat musik tradisional hingga penjaga keseimbangan terumbu karang, kerang terompet membuktikan bahwa satu spesies dapat memiliki makna yang jauh melampaui bentuk fisiknya—menjadi penghubung antara budaya manusia dan alam laut.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X