Topeng sangat berguna untuk berbagai tujuan, mulai dari hal-hal pribadi seperti pertemuan romantis, hingga kegiatan-kegiatan terlarang.
Topeng-topeng Venesia terkenal dengan desainnya yang rumit, warna-warna mencolok seperti emas dan perak, serta dekorasi barok yang kaya.
Banyak desainnya terinspirasi dari Commedia dell’Arte. Bentuknya beragam, mulai dari topeng penuh hingga topeng yang hanya menutupi area mata.
Sejarah
Penggunaan topeng dalam teater sendiri bermula pada festival-festival Yunani kuno yang didedikasikan bagi Dionysus, dewa teater.
Ketika Romawi menaklukkan Eropa Selatan, mereka mengadaptasi kecintaan Yunani terhadap teater, termasuk penggunaan topeng dalam drama dan perayaan.
Pada tahun 1436, para master dari Guild Dekorator di Venesia menata ulang industri pembuatan topeng.
Baca Juga: Mengenal Peradaban Etruska, Pesaing Awal Bangsa Romawi di Semenanjung Italia
Mereka mengajukan sejumlah aturan yang kemudian disahkan oleh Giustizieri Vecchi, para pejabat yang bertanggung jawab atas pengawasan seni dan kerajinan.
Pada momen inilah profesi maschereri atau mascareri (pembuat topeng) diakui secara resmi dengan serikat dan peraturan sendiri.
Permintaan yang meningkat menarik lebih banyak pengrajin, sehingga dibutuhkan regulasi tambahan.
Sebuah dokumen yang kini disimpan di Museum Sipil Correr menunjukkan bahwa antara tahun 1530 dan 1600 terdapat 11 pembuat topeng yang terdaftar, termasuk seorang perempuan bernama Barbara Scharpetta.
Mereka kemudian bergabung dengan para targheri—pengrajin yang mengkhususkan diri pada dekorasi akhir dan pembuatan bentuk wajah baru.
Selama berabad-abad, topeng khas Venesia dibuat dari papier-mâché dengan hiasan bulu, kain, permata, atau bulu burung yang mewah.
Pada akhirnya, topeng Venesia kembali menjadi lambang utama Carnevale, sebuah pesta besar di jalanan yang merayakan hedonisme.