Guadalcanal pertama kali dipetakan oleh bangsa Eropa pada tahun 1568, melalui ekspedisi Spanyol yang dipimpin oleh Álvaro de Mendaña.
Nama “Guadalcanal” berasal dari sebuah desa di Provinsi Seville, Andalusia, Spanyol—kampung halaman Pedro de Ortega Valencia, salah satu anggota ekspedisi Mendaña.
Pulau ini memiliki signifikansi sejarah besar karena menjadi lokasi Kampanye Guadalcanal pada tahun 1942 hingga 1943, saat Perang Dunia II.
Pertempuran sengit terjadi antara pasukan Jepang dan Amerika Serikat, yang pada akhirnya dimenangkan oleh pihak Amerika.
Kemenangan ini menjadi titik balik penting dalam perang di Pasifik.
Setelah perang berakhir, Honiara ditetapkan sebagai ibu kota baru Protektorat Kepulauan Solomon milik Inggris, menggantikan Tulagi.
Kemudian, setelah negara ini meraih kemerdekaan, Honiara tetap menjadi ibu kota dari negara Kepulauan Solomon yang merdeka.
Dengan total luas wilayah mencapai 5.302 km², Guadalcanal adalah pulau terbesar di Kepulauan Solomon.
Pulau ini memiliki populasi sekitar 155.605 jiwa, menjadikannya pulau terpadat kedua setelah Malaita. Kombinasi keindahan alam, warisan sejarah, dan keberagaman budayanya menjadikan Guadalcanal sebagai salah satu permata penting di Pasifik Selatan.***