KLIK SAJA - Jika mendengar kata “meriam”, bayangan yang muncul mungkin adalah senjata besar dengan suara ledakan memekakkan telinga.
Namun, jika Anda berkunjung ke Desa Bagak Sahwa, Kecamatan Singkawang Timur, Kalimantan Barat, pada awal Juni, Anda akan disambut oleh suara dentuman yang lebih kecil namun tak kalah sakral: dentuman Rantako, meriam mini khas masyarakat Dayak Salako Binua Garantuk’ng.
Meriam Rantako bukan sekadar alat, tapi simbol penting dalam ritual Ngabayotn—tradisi menyambut musim tanam yang berlangsung setiap tanggal 1 Juni.
Uniknya, Rantako tidak digunakan untuk perang, melainkan sebagai bagian dari ritual spiritual yang penuh makna, menjadi tanda dimulainya masa tanam sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam.
Asal Usul Rantako: Warisan Majapahit?
Rantako dipercaya sebagian kalangan sebagai warisan Majapahit, berasal dari senjata kuno bernama Cetbang—meriam kecil yang dulu digunakan dalam pertempuran laut.
Ada pula yang meyakini Rantako merupakan peninggalan Inggris.
Namun, versi Majapahit dianggap lebih masuk akal karena Cetbang memang dikenal luas di kawasan Nusantara sebagai bagian dari persenjataan tradisional berkategori mesiu di masa lampau.
Kini, Rantako telah menjadi pusaka adat bagi masyarakat Dayak Salako, khususnya di Desa Bagak Sahwa. Ia bukan hanya senjata, tetapi simbol identitas budaya dan kehormatan suku.
Ngabayotn: Ritual Penuh Doa dan Dentuman
Ritual Ngabayotn bukan hanya perayaan panen, tapi juga cara memanggil kembali roh padi ke dalam benih yang akan ditanam. Dalam kepercayaan Dayak Salako, alam adalah titipan dari Jubata Nek Panitah (Sang Pencipta), dan setiap proses pertanian harus dijalani dengan penghormatan spiritual.
Ritual ini biasanya dilakukan di rumah Parauman Adat, dipimpin oleh seorang Panarokng (imam adat). Doa dipanjatkan, seekor babi sebagai kurban disiapkan, dan suasana khidmat menyelimuti ruangan.
Di tengah prosesi, dentuman meriam Rantako pun terdengar—sebagai tanda bahwa permohonan kepada para leluhur telah selesai.
Dentuman Rantako itu sebagai pertanda bahwa pemanjatan doa telah dilakukan.