Menyibak Kebudayaan Megalitikum Desa Adat Bena Flores

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 22 Desember 2024 | 11:53 WIB
Desa Bena dilihat dari atas, kampung megalitikum di atas awan (timesmedia)
Desa Bena dilihat dari atas, kampung megalitikum di atas awan (timesmedia)

Rumah-rumah di Bena yang jumlahnya sekitar 45 unit membentuk kawasan menyerupai bentuk huruf U.

Bangunan rumah penduduknya terbuat dari kayu dan atapnya yang bermodel tinggi ditutupi oleh bahan dari alang-alang yang dianyam dan dikenal sebagai keri dan hebatnya mampu bertahan hingga 30 tahun.

Seluruh material bangunan harus diambil dari lingkungan sekitar dan pantang mengambilnya dari luar.

Baca Juga: 4 Oleh-oleh Unik Dari Lombok, Wajib Beli Sebagai Tanda Mata

Rumah dibangun dengan tetap mempertahankan kontur asli tanahnya yaitu didirikan di atas tumpukan batu-batu alam yang tingginya bisa mencapai tubuh orang dewasa bahkan hingga 3 meter.

Maka dari itu, bentuk perkampungan Bena menyerupai kawasan berundak-undak. Perkampungannya dihuni oleh 57 kepala keluarga atau sekitar 368 jiwa.

Terdapat 9 suku yang mendiaminya yakni Tizi Azi, Tizi Kae, Wato, Deru Lalulewa, Deru Solamai, Ngada, Khopa, Ago, dan Bena selaku suku tertua yang dianggap sebagai pendiri kampung.

Kaum laki-laki kampung adat Bena mengelola kebun dengan menanam kakao, kemiri, dan cengkeh.

Suasana perkampungan Bena yang asri dan hijau
Suasana perkampungan Bena yang asri dan hijau (backpacker jakarta)

Sedangkan kaum hawa menghabiskan waktu dengan menenun kain untuk dijual sebagai cenderamata kepada wisatawan yang banyak berkunjung ke tempat ini.

Kampung Bena dikenal sebagai kawasan yang masih menyisakan budaya zaman purba dan Ketika mengunjunginya kita bagaikan sedang menembus lorong waktu.

Hal ini ditandai oleh kehadiran batu-batu besar dari zaman megalitikum yang dipergunakan sebagai meja untuk ritual adat, bentuknya lonjong dan dinamakan sebagai Watu Lewa.

Batu lain yang berfungsi sebagai meja diberi nama Nabe dan di ujung utara kampung ada bongkahan batu besar sebagai kursi persidangan.

Turbupati, demikian masyarakat Bena menyebutnya, berbentuk seperti tempat duduk dan hanya boleh diduduki oleh kepala suku guna menari solusi dari suatu masalah yang dihadapi masyarakat di Bena.

Tak hanya peninggalan batu-batu besar saja yang dapat kita temu jika bertandang ke Bena ini pasalnya terdapat pula bangunan yang disebut sebagai nga'du dan bhaga yang masing-masing jumlahnya 9 buah disesuaikan dengan jumlah suku di kampung itu. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Indonesia.go id, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Tags

Rekomendasi

Terkini

X