Berkunjung ke Pulau Sabira, Wilayah Paling Utara di Jakarta

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Sabtu, 21 Desember 2024 | 19:06 WIB
Penampakan Pulau Sabira yang dikelilingi terumbu karang (pulau tidung paket)
Penampakan Pulau Sabira yang dikelilingi terumbu karang (pulau tidung paket)

95 persen penduduknya berasal dari suku Bugis dan telah mendiami pulau sejak tahun 1975 silam.

Jika dulunya warga banyak mendirikan rumah panggung khas Bugis, maka model bangunan itu sudah mulai jarang ditemukan lantaran telah ada kesepakatan di antara warga agar tidak menebang pohon-pohon di pulau.

Umumnya pohon di Sabira telah berusia ratusan tahun terdiri dari jenis ketapan, randu, kampak-kampak, dan lainnya. Jalan lingkungan di Sabira juga sangat tertata menggunakan paving block dan ada banyak sepeda listrik berlalu lalang di pulau ini.

Baca Juga: Keren! Lumajang Punya Air Terjun Tumpak Sewu, Mirip Niagara Falls

Segala fasilitas umum seperti sekolah, sarana kesehatan, hingga ATM sudah tersedia lengkap di pulau terpencil ini.

Lalu apa yang membuat Sabira istimewa dan menjadi salah satu tujuan wisata minat khusus? Ada banyak alasannya seperti lingkungannya yang masih terjaga kelestariannya termasuk keindahan alam bawah laut dengan gugusan terumbu karang.

Pengunjung dapat melakukan snorkeling di antara terumbu karang perairan dangkal Sabira atau menjelajahi pesisir pulau yang berpantai pasir putih.

Jika ingin menginap, ada beberapa warga yang menyewakan kamar-kamar rumah mereka kepada pengunjung dengan tarif antara Rp350.000--Rp500.00 per malam sudah termasuk makan tiga kali sehari, lengkap dengan fasilitas listrik serta pendingin udara.

Keistimewaan lainnya dari Sabira adalah adanya mercusuar yang berada di bagian timur pulau dan dapat terlihat dari jarak sekitar 5 kilometer.

Menara mercusuar di pulau Sabira
Menara mercusuar di pulau Sabira (Promedia)

Menara navigasi ini adalah pemandu kapal setinggi 48 meter dengan 260 anak tangga ini terbuat dari baja.

Pembuatannya dilakukan pada 1867 oleh pabrik Grosfmederij di Leiden, Belanda dan setelah  selesai dicetak, mercusuar baja ini dikirim ke Batavia secara bertahap selama dua tahun.

Seperti tertulis pada plakat besi di atas pintu masuk menara, mercusuar ini merupakan sumbangan Raja Belanda Willem III dan selesai berdiri pada 1869.

Jika menaiki mercusuar ini hingga ke puncaknya, kita dapat melihat 360 derajat seluruh Pulau Sabira termasuk air laut hijau toska dan biru jernih serta gugus terumbu karang di perairan dangkal pulau.

Mercusuar ini mendapat nama khusus, Noodwachter atau Penjaga Utara dan masuk Daftar Suar Indonesia nomor 1690 di bawah pengelolaan Distrik Navigasi Kelas 1 Tanjung Priok Kementerian Perhubungan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Indonesia.go.id

Tags

Rekomendasi

Terkini

X