KLIK SAJA – Misi sudah jelas, apabila Palmeiras ingin melangkah ke final Copa Libertadores 2025, mereka harus membalikkan defisit 3-0 dari LDU Quito pada leg kedua yang akan digelar 31 Oktober mendatang.
Sebagai salah satu klub terkaya di Amerika Selatan, Palmeiras kini memburu gelar kontinental ketiga dalam lima tahun terakhir, namun untuk mewujudkannya, mereka harus mengejar ketertinggalan sejak menit pertama.
Para pendukung Palmeiras langsung menyalahkan ketinggian udara Ekuador sebagai alasan kekalahan telak 3-0 di leg pertama.
Namun, alasan tersebut tak mengubah hasil akhir. Artinya, tim asuhan Abel Ferreira minimal harus mencetak tiga gol tanpa balas untuk memaksakan laga berlanjut ke adu penalti.
Di leg pertama, Palmeiras benar-benar dibuat tak berdaya oleh tuan rumah — kebobolan tiga gol hanya dalam babak pertama, bahkan bisa saja lebih banyak jika bukan karena penyelamatan sang kiper.
Situasi mereka semakin rumit karena performa di liga domestik juga tengah menurun.
Sebelum kalah dari LDU, Palmeiras lebih dulu ditaklukkan Flamengo, lalu bermain imbang tanpa gol melawan Cruzeiro. Akibatnya, posisi mereka di klasemen Serie A Brasil ikut melorot.
Kini, Verdao mencatat tiga laga tanpa kemenangan, catatan yang tentu jauh dari ideal jelang pertandingan hidup-mati seperti ini.
Namun, sejarah memberi sedikit harapan. Terakhir kali Palmeiras menjamu LDU di Brasil, yakni pada tahun 2009, mereka menang 2-0.
Hasil serupa memang belum cukup untuk membalikkan keadaan, tetapi bisa menjadi pemantik semangat bagi para suporter yang berharap keajaiban terjadi di Allianz Parque.
LDU Quito kembali mencatat sejarah luar biasa, mengingatkan publik pada tahun 2008, ketika mereka meraih gelar Copa Libertadores pertama dalam sejarah klub yang sudah berdiri lebih dari satu abad.
Tim berjuluk “Rei de Copas” (Raja Piala) ini tampil luar biasa musim ini, menyingkirkan Botafogo — juara Libertadores dan Serie A Brasil 2024 — serta São Paulo, sebelum menghancurkan Palmeiras 3-0 di Quito.
Menariknya, pelatih kepala Tiago Nunes, yang juga berasal dari Brasil, berhasil membawa tim Ekuador ini menyingkirkan sesama klub dari tanah kelahirannya.