Memiliki keterampilan mengolah bola disertai lari kencang, akurasi umpan dan tendangan kedua pemain ini juga sangat baik di masa mudanya.
Jika Messi terkenal lihai melakukan tembakan plesing, Yamal mempunyai atribut umpan trivela yang kini tenar dengan istilah "umpan L2" merujuk dari game konsol Play Station.
Selain komposisi skuad yang membuat Lamine Yamal sedikit inferior dibanding era Lionel Messi di bawah kepemimpinan Frank Rijkaard dan Pep Guardiola, salah satu elemen yang harus diberikannya ke depan adalah momen penentu.
Messi kerap menciptakan sebuah momen penentu untuk merubah mentalitas timnya, sementara Yamal masih sering terkurung dalam rubanah pertahanan lawan ketika anak asuh Hansi Flick alami deadlock.
Baca Juga: Prediksi Lazio vs Inter Milan, Salah Satu Wajib Menang Untuk Membuka Kunci Persaingan Scudetto
Rekor Pemain Termuda dan Bahaya Komparasi
Lamine Yamal sudah mendapatkan previlage dari Barcelona dan Timnas Spanyol untuk memecahkan rekor sebagai pemain termuda yang masuk ke dalam skuad, bahkan juga sebagai pencetak gol termuda.
Trofi EURO 2024 juga semakin mempertegas awal karier gemilangnya bersama gelar individu pemain muda terbaik dan juga Kopa Award pada ajang Ballon d'Or 2024.
Ke depan, musuh utama Lamine Yamal tentu adalah dirinya dalam bahaya komparasi dengan Lionel Messi.
Sudah banyak komparasi ini "menelan korban" seperti Bojan Krkic, Gerard Deulofeu, hingga generasi Ansu Fati, Gavi, dan Pedri.
Kini Lamine Yamal harus mempertegas bahwa kariernya adalah untuk membangun namanya sendiri, bukan sebagai penerus Lionel Messi.
Semoga "tongkat estafet" dari sang legenda tidak malah membebani pemuda 17 tahun, namun malah meningkatkan kepercayaan diri ke depannya.