Baca Juga: Prediksi Fulham vs Brighton, Kaoru Mitoma Diragukan Tampil dan The Seagulls Bisa Kecolongan Lagi
Di babak kedua akhirnya Arsenal bisa memecahkan telur. Menit 53' sepak pojok Declan Rice tepat menemui kepala Jurrien Timber yang melompat di tiang dekat. Andre Onana tidak bisa berbuat apa-apa karena di sekitarnya sudah penuh dengan para pemain dari kedua tim.
Bukayo Saka nyaris menggandakan keunggulan empat menit berselang. Usai menerima umpan terobosan Odegaard, pemain Timnas Inggris langsung melancarkan tembakan rendah yang masih bisa ditangkap sempurna oleh Onana. Namun peluang ini tak terhitung, karena Saka dalam posisi offside.
David Raya melakukan penyelamatan penting menit 66'. Tendangan bebas Bruno Fernandes dari sisi kanan berhasil ditanduk oleh Matthijs de Ligt. Bola parabolik mengincar sisi kiri atas gawang Raya, tetapi sang kiper bisa merentangkan tangan untuk menepisnya.
Akhirnya William Saliba menggenapi kemenangan timnya lewat gol menit ke-73'. Sepak pojok Bukayo Saka mengincar tiang jauh, di mana Thomas Partey sudah berdiri menyambut bola.
Pemain tengah ini memantulkan bola ke muka gawang, dan tanpa sengaja menyentuh punggung Saliba dan berbelok ke gawang Onana.
Sebuah kekalahan taktis yang harus diterima oleh Ruben Amorim di partai keempatnya. Kini pelatih Portugal sudah mengetahui, bahwa tim-tim besar Premier League mempunyai banyak senjata yang bisa digunakan untuk memukul mereka di tiap laganya.
Baca Juga: Prediksi Athletic Bilbao vs Real Madrid, Menunggu Kylian Mbappe Tampil Oke Lagi
Badai Set-Piece dan Inisiasi Amorim Terhadap Skuad United
Pembuktian ucapan Amorom tentang badai yang mendekat, dijawab Mikel Arteta dengan hunjukan serangan set-piece yang dilakukan timnya.
Manchester City sempat dilukai lewat momen ini di awal musim, dan meskipun Gabriel Magalhaes yang menjadi elemen petingnya absen, Arteta menggunakan Jurrien Timber sebagai penggantinya.
Timber dan Kai Havertz bertugas menekan di tiang dekat sehingga Andre Onana tidak mempunyai ruang untuk melompat. William Saliba menunggu di muka gawang, sementara pemain lainnya berada di tiang jauh.
Dua momen gol via sepak pojok ini memang bukan sepenuhnya kesalahan pemain Manchester United. Mereka hanya perlu beradaptasi saja dengan strategi Mikel Arteta yang satu ini agar terbiasa, sebab formasi 3-4-2-1 Amorim berarti meminimalisir pemain tengah.
Kekalahan ini juga tidak bisa dianggap sebagai kegagalan dari Ruben Amorim. Inisiasi sang pelatih kepala terhadap skuad masih berjalan, terbukti dengan masih banyaknya ia merotasi pemain untuk tujuan "audisi" layaknya laga pramusim.