Hakim garis sempat mengangkat bendera offside, namun setelah melalui tinjauan VAR, gol perdana di kepelatihan Ruudtje disahkan hanya berjarak dua menit dari awal mula.
Vardy mengancam kembali dengan cara mencari ruang yang sama di menit ke-7', namun Fabianski berhasil mematahkan sepakan kaki kirinya kali ini.
Peluang terbaik bagi West Ham datang pada menit 27'. Crossing terukur Mohammed Kudus dari sisi kiri berhasil disundul oleh Tomas Soucek di tiang jauh. Namun bola hanya menyentuh jala samping gawang Mads Hermansen.
Di babak kedua, Billal El Khannouss menggandakan kedudukan bagi The Foxes menit 61'. Pemain yang menyajikan assist bagi gol pertama Vardy tadi mendapat umpan cutback dari Kasey McAteer dan bisa menaklukkan Fabianski dengan tembakan mendatar.
Pada menit 90', Patson Daka yang masuk menggantikan Vardy berhasil mempecundangi Max Killman dalam duel satu lawan satu dan mencetak gol ketiga timnya dengan tembakan keras kaki kiri.
Niclas Fullkrug mendapatkan gol perdananya di liga di menit 90+3', usai sepak pojok Jarrod Bowen yang dibelokkan Crysencio Summerville tepat mengarah ke jalur kepalanya.
Skor 3-1 bagi tuan rumah bisa berefek domino bagi nasib Julen Lopetegui. Ketersediaan banyak manajer di pasar, bisa membuat manajemen The Hammers bertindak cepat apalagi skuad mereka yang sangat menjanjikan.
Baca Juga: Prediksi Newcastle vs Liverpool, The Reds Harus Sadar Perebutan Gelar Belum Usai
Fokus dan Pembuktian Ruud van Nistelrooy
Resep utama kegemilangan debut Ruudtje malam tadi adalah fokusnya pada ideologi yang dimiliki, serta keinginan untuk memberikan pembuktian atas "diusirnya" sang legenda dari Manchester United.
Nistelrooy mempunyai pendekatan defense-balance seperti Jose Mourinho kala menukangi Chelsea dengan 4-2-3-1 nya. Dua gelandang bertahan menjadi poros permainan, dan empat pemain di depannya mempunyai ruang kreativitas tanpa batas.
Jika di United dalam 4 laga ia mempercayakan pada Manuel Ugarte serta Casemiro, di Leicester ia mempunyai Wilfried Ndidi dan Boubakary Soumare yang mempunyai tenaga kuda.
Billal El Khannouss, Kasey McAteer, dan Facundo Bounanotte menjadi kreator di belakang striker senior Jamie Vardy, yang akan sering diganti oleh Patson Daka untuk mempertahankan ritme permainan.
Fokus mempertahankan ide ini akan menjadi senjata kedepan, kala Leicester bersiap menghadapi Brighton, Newcastle, dan Wolves sebelum Natal nanti.
Target lolos dari jerat degradasi seharusnya bisa dilampaui oleh meneer Ruud van Nistelrooy.