KLIK SAJA - Akram Afif kembali mengukir sejarah di sepak bola Asia dengan terpilih sebagai Pemain Terbaik Asia tahun 2024. Pemain sayap andalan Timnas Qatar dan klub Al-Sadd ini berhasil mengungguli nominasi lain seperti Yazan Al-Naimat dari Yordania dan Seol Young-woo dari Korea Selatan. Gelar ini menjadi kali kedua bagi Afif, setelah sebelumnya ia juga memenangkan penghargaan bergengsi ini pada tahun 2019, ketika ia membawa Qatar meraih gelar Piala Asia untuk pertama kalinya.
Performa gemilang Afif sepanjang Piala Asia 2023 di Qatar memang sangat menentukan bagi timnya. Dalam laga final melawan Yordania pada 10 Februari 2024, ia menjadi sosok sentral yang membawa Qatar meraih kemenangan 3-1 melalui hattrick penalti yang ia cetak dengan penuh ketenangan. Namun, momen ini tidak lepas dari kontroversi karena banyak pihak yang mempertanyakan keputusan penalti tersebut. Meski demikian, Afif menunjukkan kualitasnya sebagai berkelas, tak hanya dari ketajamannya mencetak gol, tetapi juga kepemimpinannya di lapangan.
Baca Juga: Dear Pemain Muda Indonesia, Tirulah Jejak Karier Kim Min-su yang Senyap Tapi Berkelas Ini!
Hattrick Penalti dan Kontroversi di Final Piala Asia 2023
Kemenangan Qatar atas Yordania di final Piala Asia 2023 memang diwarnai drama. Qatar mendapatkan tiga penalti dalam satu pertandingan, sebuah catatan langka yang langsung menuai perbincangan luas. Akram Afif yang tampil sebagai eksekutor sukses mengonversi ketiga penalti tersebut menjadi gol, sekaligus memastikan kemenangan Qatar di kandang sendiri. Hattrick ini bukan hanya menjadi momen bersejarah bagi Afif, tetapi juga menegaskan kepiawaiannya dalam situasi tekanan tinggi.
Meski demikian, keputusan wasit untuk memberikan tiga penalti bagi Qatar menuai kritik dari sejumlah pihak, terutama dari pendukung Yordania. Mereka menganggap beberapa pelanggaran tersebut masih bisa diperdebatkan. Namun, terlepas dari kontroversi itu, Afif tetap memperlihatkan konsistensi performa dan ketenangan yang jarang terlihat pada pemain lain, terutama dalam laga sepenting final.
Baca Juga: Mentalitas Juara Antonio Conte Hancurkan AC Milan dan Perbesar Peluang Napoli Raih Scudetto
Kembalinya Sang Pemain Kunci dari Villarreal ke Al Sadd
Akram Afif bukan sosok asing di kancah sepak bola internasional. Pada 2016, ia menandatangani kontrak dengan klub La Liga Spanyol, Villarreal, yang menjadikannya pemain Qatar pertama yang bergabung dengan klub papan atas Spanyol. Namun, sayangnya, petualangannya di Eropa tidak berjalan sesuai harapan. Afif kesulitan beradaptasi dengan gaya permainan di La Liga dan akhirnya lebih sering dipinjamkan ke beberapa klub, seperti Sporting Gijón di Spanyol dan KAS Eupen di Belgia.
Karier Afif di Eropa tak berkembang seperti yang diharapkan, dan pada akhirnya ia kembali ke Qatar untuk bergabung dengan Al-Sadd, klub tempat ia tumbuh dan berkembang. Kembali ke Al-Sadd, Afif berhasil menemukan kembali performa terbaiknya, menjadi pemain kunci di liga domestik, dan menegaskan posisinya sebagai pemain andalan Timnas Qatar. Bersama Al-Sadd, ia menunjukkan kemampuan yang membuatnya layak menyandang status sebagai salah satu pemain terbaik Asia.
Gelar Kedua dan Ambisi Meraih Trofi Ketiga
Mendapatkan gelar Pemain Terbaik Asia untuk kedua kalinya adalah pencapaian besar yang menegaskan dominasi Afif di sepak bola Asia. Namun, ia tidak berpuas diri. Dalam sebuah wawancara, Afif menyatakan ambisinya untuk terus mengembangkan diri dan berjuang meraih gelar ketiga di masa depan. Tekad ini memperlihatkan profesionalisme dan mentalitas juaranya, sebuah sikap yang menjadi contoh bagi pemain muda di seluruh Asia.
Baca Juga: Atasi Protes Jadwal yang Overload, FIFA Kirim Arsene Wenger Menjadi Ketua Gugus Tugas Kesejahteraan Pemain Bola
Pencapaian Akram Afif ini adalah contoh nyata dari kerja keras dan dedikasi yang menginspirasi banyak pemain muda di Asia, termasuk yang berasal dari negara-negara dengan tradisi sepak bola yang berkembang pesat seperti Jepang, Korea Selatan, hingga Yordania. Dua gelar Pemain Terbaik Asia adalah pencapaian yang hanya bisa diraih oleh pemain dengan konsistensi dan kualitas luar biasa, dan Afif telah membuktikan dirinya layak menyandang gelar tersebut.
Akram Afif telah menorehkan namanya dalam buku sejarah sepak bola Asia. Dengan usia 27 tahun dan performa yang masih konsisten, ia berpeluang untuk terus bersinar dan bahkan meraih gelar individu ketiganya di masa depan. Afif tidak hanya menjadi ikon bagi sepak bola Qatar, tetapi juga teladan bagi seluruh pemain Asia yang bercita-cita meraih kesuksesan di panggung internasional. Semoga bisa menginspirasi pemain Timnas Indonesia.