KLIK SAJA - Bigmatch di Stadion Velodrome pada Senin, 28 Oktober 2024 dini hari WIB, berakhir dengan kekecewaan besar bagi Marseille. Klub asuhan Roberto De Zerbi harus menerima kenyataan pahit setelah kalah telak 0-3 dari Paris Saint-Germain (PSG) di hadapan pendukungnya sendiri.
Sejak menit awal, Marseille bermain dengan intensitas tinggi, berusaha menekan PSG yang sudah terbiasa dengan tensi besar di Ligue 1. Sedikit kesalahan tak sengaja dari kiper Geronimo Rulli, membuat Joao Neves bisa mencetak gol cepat menit ke-7'. Namun, laga berubah drastis pada menit ke-20 ketika Amine Harit mendapat kartu merah, meninggalkan Marseille dengan 10 pemain dan membuka ruang bagi PSG untuk mengambil kendali permainan.
Laga semakin sulit bagi tuan rumah ketika pada menit ke-29, Leonardo Balerdi mencetak gol bunuh diri yang mengubah skor menjadi 0-2. Kecerobohan ini membuyarkan strategi Marseille dan memberikan momentum kuat bagi PSG. Tampil dengan kepercayaan diri tinggi, PSG berhasil menambah gol lagi melalui Bradley Barcola (menit 40'), yang membuat laga ini berakhir dengan kemenangan meyakinkan. Kekalahan telak ini menegaskan bahwa Marseille masih memiliki beberapa aspek penting yang perlu diperbaiki jika ingin bersaing untuk merebut gelar Ligue 1 dari PSG.
Baca Juga: Berikut Daftar Lengkap Pemenang Ballon d'Or 2024 dan Peraih Penghargaan Lainnya
Berikut tiga alasan utama mengapa Marseille belum layak menjadi juara Ligue 1 musim ini:
1. Mentalitas Tim yang Belum Terbentuk
Kedatangan Roberto De Zerbi sebagai pelatih baru Marseille disambut dengan ekspektasi tinggi dari para penggemar. Namun, membangun mentalitas juara tidaklah semudah itu, terutama di musim pertama kepelatihannya. Meski De Zerbi dikenal sebagai pelatih dengan filosofi permainan yang atraktif dan progresif, Marseille tampaknya masih membutuhkan waktu untuk mengembangkan mentalitas yang kuat di setiap pertandingan, terutama dalam laga besar melawan PSG.
Mentalitas yang belum terbentuk ini terlihat dalam performa mereka saat menghadapi PSG. Kehilangan satu pemain karena kartu merah tampaknya membuat Marseille kehilangan fokus dan kendali permainan. De Zerbi kemungkinan akan lebih fokus untuk membangun fondasi strategi dan memperkuat permainan tim secara menyeluruh di musim pertama ini. Meskipun Marseille mungkin mampu bersaing di tiga besar, yang akan membawa mereka ke Liga Champions, target juara tampaknya masih terlalu ambisius mengingat keterbatasan mentalitas dan kesiapan tim saat ini.
Baca Juga: Rodri Resmi Raih Ballon d'Or 2024 ketika Tak Satupun Perwakilan Real Madrid Datang
2. Banyaknya Pemain Rekrutan Baru Menyebabkan Inkonsistensi
Salah satu tantangan besar yang dihadapi Marseille musim ini adalah banyaknya pemain baru yang datang ke klub, termasuk Geronimo Rulli, Pierre-Emile Hojbjerg, Adrien Rabiot, Mason Greenwood, dan Elye Wahi. Rekrutan-rekrutan ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas tim, tetapi kenyataannya, adaptasi mereka membutuhkan waktu yang tidak pendek.
Inkonsistensi performa Marseille sebagian besar disebabkan oleh proses pembangunan chemistry di antara para pemain baru. Mereka perlu menemukan ritme bermain bersama, sementara adaptasi terhadap strategi De Zerbi juga memerlukan waktu. Meski beberapa pemain menunjukkan performa menjanjikan, Marseille jelas masih kekurangan kedalaman, khususnya di lini pertahanan. Bek andal dengan kemampuan menjaga konsistensi permainan masih dibutuhkan untuk membantu tim bersaing lebih stabil di papan atas. Hingga proses ini tuntas, Marseille kemungkinan akan terus mengalami performa yang naik-turun sepanjang musim.
Baca Juga: Erik ten Hag Resmi OUT! Momen yang Ditunggu Banyak Fans Manchester United Akhirnya Datang Juga
3. Harus Bisa Menaklukkan PSG Secara Langsung
Salah satu tolok ukur bagi setiap tim yang ingin meraih gelar Ligue 1 adalah kemampuan mereka mengalahkan PSG dalam pertandingan langsung. Sayangnya, Marseille belum menunjukkan bahwa mereka mampu melakukannya. Kekalahan 0-3 di kandang sendiri ini adalah kekalahan keenam berturut-turut Marseille melawan PSG di ajang Ligue 1. Rekor ini tentu menunjukkan kesenjangan kualitas antara kedua tim.
Jika Marseille ingin mematahkan dominasi PSG dan merebut puncak klasemen, mereka harus menunjukkan bahwa mereka bisa bersaing dalam pertandingan head-to-head melawan klub raksasa tersebut, baik di kandang maupun tandang. PSG memiliki pemain-pemain bintang dengan banyak pengalaman dalam menghadapi pertandingan penting, sedangkan Marseille perlu mengembangkan kepercayaan diri dan strategi yang lebih efektif ketika bertemu PSG. Skor 0-3 di kandang sendiri bukanlah tanda positif bagi ambisi Marseille meraih gelar musim ini, dan tampaknya De Zerbi masih harus memutar otak untuk mengimbangi gaya bermain PSG yang cepat dan efektif.
Dengan tiga faktor utama tersebut, Marseille tampaknya masih jauh dari layak untuk disebut sebagai calon juara Ligue 1 musim 2024/2025. Roberto De Zerbi perlu memanfaatkan waktu yang ada untuk membangun fondasi tim yang kuat dan mencari solusi jangka panjang bagi masalah yang dihadapi Marseille. Musim depan mungkin jadi waktu tepat bagi Les Olympique bersaing kembali dengan PSG dan AS Monaco.