KLIK SAJA - Menjelang berakhirnya kompetisi Liga 1 Indonesia musim 2024/2025, perhatian publik sepak bola nasional tertuju pada zona degradasi yang kian memanas.
Persaingan ketat di papan bawah membuat atmosfer pertandingan menjadi tegang, namun juga rentan terhadap praktik curang seperti pengaturan skor.
Maka dari itu, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, memberikan jaminan bahwa sisa pertandingan akan berlangsung bersih dan sportif, bebas dari skandal match fixing yang selama ini menjadi bayang-bayang gelap sepak bola Indonesia.
“Kita harus percaya kualitas wasit kita. Dan kalau ada match fixing, kita gigit,” tegas Erick dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa (25/4/2025).
Sikap tegas ini bukan sekadar retorika. Erick ingin memastikan bahwa kepercayaan publik terhadap integritas Liga 1 terus terjaga, apalagi di tengah meningkatnya kualitas permainan tim-tim papan bawah.
Semen Padang, PSIS Semarang, dan PSS Sleman kini menjadi sorotan karena berada di zona degradasi dengan masing-masing 28, 25, dan 22 poin.
Namun posisi mereka belum sepenuhnya tertutup, mengingat masih ada empat laga tersisa.
Bahkan tim-tim seperti Barito Putera, Persis Solo, Madura United, dan Persik Kediri yang saat ini berada di atas zona merah juga belum aman.
Kesalahan kecil bisa membuat mereka terlempar ke kasta kedua.
Erick pun mengapresiasi perjuangan tim-tim seperti Semen Padang. “Contoh seperti Semen Padang yang menang 3-2 melawan PSIS dan 2-0 atas Persija, itu menunjukkan kualitas permainan mereka,” katanya.
Menurutnya, hasil-hasil itu adalah bukti bahwa persaingan di papan bawah tidak hanya soal bertahan dari degradasi, tetapi juga menunjukkan semangat kompetisi sejati.
Sementara itu, Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Ferry Paulus, memastikan bahwa aspek pengamanan dan integritas pertandingan menjadi prioritas utama.
“Kami sudah koordinasi dengan PSSI dan memastikan wasit yang memimpin pertandingan memiliki kualitas tinggi dan tegas,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa wasit-wasit yang ditugaskan di laga krusial sudah diseleksi secara ketat agar mampu memimpin dengan adil dan profesional.
Fenomena match fixing memang kerap menghantui partai-partai akhir Liga 1, di mana sering muncul hasil mencolok yang mencurigakan atau pertandingan yang tampak dimainkan tanpa semangat.