Bagi Karmila, tepuk tangan penonton menjadi bentuk penghargaan yang paling berharga.
"Dan waktu mereka tepuk tangan lihat atraksi kita, ya seneng lah."
Nama Karmila mulai dikenal luas setelah aksinya menarik perhatian fotografer asing. Pada 2016, foto-fotonya tersebar di berbagai media internasional, termasuk The Guardian.
Publik dunia dibuat penasaran oleh sosok perempuan muda Indonesia yang dengan percaya diri melaju di dinding vertikal tong setan—sebuah atraksi yang bahkan bagi banyak orang terdengar mustahil.
Dua tahun kemudian, pada 2018, Karmila mendapat kesempatan tampil di Thailand. Momen itu menjadi titik penting dalam kariernya karena di sanalah ia mulai mengenal jaringan pemain wall of death internasional.
Kesempatan yang lebih besar datang ketika ia bergabung dengan kelompok pertunjukan Ken Fox Wall of Death dari Inggris. Sejak 2024, Karmila rutin tampil di berbagai pertunjukan di Inggris menggunakan motor legendaris Indian Scout, salah satu ikon pertunjukan wall of death di Eropa.
Dalam unggahan media sosialnya, Karmila mengaku tidak pernah membayangkan perjalanan hidupnya akan sejauh ini.
"Dua tahun lalu, sesuatu besar berubah dalam hidup aku. Siapa sangka aku yang dulunya ngejoki di pasar malam, di daerah pedalaman-pedalaman, terus ke kota-kota lain, dan gak nyangka sekarang bisa tampil sampai ke luar negeri."
Yang lebih membanggakan, keberangkatannya ke Inggris bukan lagi pengalaman pertama.
"Sebenarnya ini udah ketiga kalinya aku berangkat ke Inggris."
Meski telah berhasil menembus panggung internasional, Karmila belum merasa puas. Dalam wawancaranya dengan Kompas.com pada 11 Juni 2026, ia mengungkapkan masih memiliki target yang ingin diwujudkan.
"Selama aku main tong setan dari 2014, salah satu keinginan terbesar aku itu adalah go internasional dengan skill yang aku punya. Ketika ada tawaran itu, aku langsung ambil."
Kini, setelah Inggris berhasil ia taklukkan, tujuan berikutnya adalah Amerika Serikat.
Bagi Karmila, tong setan bukan sekadar pekerjaan ekstrem atau hiburan pasar malam.
Arena kayu berbentuk silinder itu telah menjadi kendaraan yang mengubah jalan hidupnya—membawa seorang perempuan dari pelosok Sumatra menuju panggung dunia, sekaligus membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat yang tak pernah diduga siapa pun.***