Perjalanan sejarah yang dialami Lie dan komunitasnya menunjukkan bahwa budaya tidak pernah benar-benar hilang, meskipun terkadang terpinggirkan.
Peran figur seperti Lie membuat warisan itu tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Kelenteng Siu Hok Bio kini berdiri sebagai pengingat masa lalu sekaligus ruang bagi generasi muda untuk memahami akar budaya mereka.
Cerita ini juga mencerminkan bagaimana Semarang menjadi kota yang menerima keberagaman budaya.
Lewat pelestarian yang konsisten, ingatan zaman seperti ini tetap terjaga dari generasi ke generasi.
Lie berpandangan bahwa setiap sudut kelenteng menyimpan pelajaran tentang keberanian, keteguhan, dan kebersamaan.
Mungkin itulah alasan ia tetap bertahan menjaga kelenteng sampai hari ini.
Di usia senja, Lie Gei Hong tidak mengejar sorotan.
Ia hanya menjaga satu hal sederhana: ingatan. Kelenteng Siu Hok Bio bukan hanya bangunan tua di Pecinan Semarang, tapi ruang hidup yang menyimpan cerita tentang identitas, sejarah, dan keberlangsungan budaya.
Selama ini masih ada orang seperti Lie, sejarah tidak akan benar-benar hilang.***