Kisah Lie Gei di Pecinan Semarang, Lie Gei Hong Menjaga Kelenteng Siu Hok Bio dari Lupa dan Waktu

photo author
- Selasa, 17 Februari 2026 | 16:06 WIB
Kisah Lie Gei di Pecinan Semarang, Lie Gei Hong Menjaga Kelenteng Siu Hok Bio dari Lupa dan Waktu (Ilustrasi gambar )
Kisah Lie Gei di Pecinan Semarang, Lie Gei Hong Menjaga Kelenteng Siu Hok Bio dari Lupa dan Waktu (Ilustrasi gambar )

KLIK SAJA - Di tengah hiruk-pikuk kawasan Pecinan Semarang yang penuh deretan ruko dan aktivitas kota, ada sebuah tempat kecil tapi sarat makna sejarah Kelenteng Siu Hok Bio.

Bangunannya sederhana, tidak mencolok, namun menyimpan cerita panjang komunitas Tionghoa di kota ini.

Di tempat inilah Lie Gei Hong, sosok berusia sekitar 80 tahun dan Ketua Yayasan Kelenteng Siu Hok Bio, menghabiskan sebagian besar hidupnya demi menjaga kelenteng tetap hidup, terawat, dan menjadi saksi zaman.

Bagi Lie, kelenteng ini bukan sekadar tempat sembahyang.

Baca Juga: Viral di TikTok, Driver Wanita Bandung Antar Bubble Wrap Jumbo dari Cijerah ke Lembang dengan Ongkos Kirim Rp35 Ribu

“Kelenteng ini bukan hanya tempat ibadah, tapi juga tempat menyimpan ingatan,” ungkapnya.

Kelenteng Siu Hok Bio: Tempat “Ingatan” Komunitas

Lebih dari sekadar tempat ibadah, Kelenteng Siu Hok Bio merupakan ruang kenangan menyerupai buku hidup komunitas Tionghoa di Semarang.

Bangunan ini menjadi tempat persimpangan antara cerita masa lalu dan realita masa kini masyarakat yang terus berubah seiring waktu.

Lie Gei Hong menyebut kelenteng itu bukan hanya struktur batu dan kayu ia adalah tempat yang menyimpan memori sejarah panjang komunitasnya.

Di balik pintu kelenteng yang tampak sederhana, tersimpan cerita era ketika identitas budaya Tionghoa belum sebebas sekarang.

Baca Juga: 15 Titik Rukyatul Hilal Ramadan 1447 H di Jateng, dari Semarang hingga Kebumen, Cek Lokasi Resminya

Kelenteng seperti ini menjadi saksi eksistensi dan keberlangsungan tradisi Tionghoa yang telah berakar lama di Semarang.

Keberadaan kelenteng mencerminkan bagaimana budaya Tionghoa berkembang di tengah lingkungan yang multikultural.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dita Nilan Karlasari

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X