Masa kecilnya diwarnai pengalaman pahit perpindahan sekolah akibat situasi sosial politik yang berubah cepat pada era 1960-an.
Beberapa sekolah tempatnya belajar, termasuk yang berbahasa Mandarin dan Melayu, terpaksa ditutup pada masa itu.
Lie bahkan pernah menyaksikan langsung sekolahnya dibakar, bagian dari dinamika sosial yang dialami komunitasnya.
Peristiwa-peristiwa itu meninggalkan jejak yang kuat dalam ingatan sejarah komunitas Tionghoa di kota ini.
Kelenteng pun menjadi salah satu ruang aman untuk menyimpan identitas yang nyaris hilang.
Kelenteng Sebagai Wisata Budaya yang Hidup
Hari ini, kelenteng seperti Siu Hok Bio tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai destinasi budaya di kawasan Pecinan.
Bangunan ini menjadi saksi sejarah panjang kawasan Pecinan sebagai pusat kehidupan etnis Tionghoa.
Pengunjung kini bisa melihat arsitektur lama dan merasakan suasana tradisional yang tetap terjaga.
Kelenteng-kelenteng lain di Semarang juga memiliki peran serupa dalam pelestarian sejarah dan budaya komunitas.
Dengan kisahnya, Siu Hok Bio menunjukkan bahwa tempat ibadah bukan sekadar bangunan, tapi juga penjaga memory kolektif suatu komunitas.
Lie percaya, sejarah tidak boleh hanya tinggal di museum, tapi harus tetap bernapas di ruang nyata dan kelenteng ini adalah salah satu napas itu.
Warisan Budaya yang Terus Hidup Lewat Generasi