“Kalau di Palestina kena peluru, gimana sedihnya?” tuturnya.
Kalimat itu seolah menegaskan bahwa luka mereka bukan yang paling parah di dunia.
Meski sama-sama menderita, ia merasa tragedi di Gaza jauh lebih memilukan.
Cara pandang ini membuat banyak orang terdiam.
Baca Juga: Dari Korban hingga Huntara, Ini Update Lengkap Penanganan Bencana Agam Sumatera Barat Versi BNPB
Di saat diri sendiri terluka, ia masih sempat memikirkan luka orang lain.
Masih Bisa Makan dan Minum, Itu Sudah Nikmat Besar
Pengungsi Aceh itu juga menyinggung soal bantuan yang mereka terima.
Di Aceh, meski serba terbatas, mereka masih bisa mendapatkan makanan.
“Di sini dapat makan, di sana kan anak-anak itu nggak dapat makan,” katanya.
Bahkan soal air minum, ia menyebut di Gaza anak-anak sampai minum dari pijakan kaki.
Sementara di Aceh, walau hanya air hujan atau air keruh, masih bisa diminum.
Baca Juga: Setengah Karung Dibayar Keringat, Kisah Warga Simaninggir Menjemput Bantuan Lewat Jalur Berbahaya
Bagi mereka, itu sudah jadi nikmat yang patut disyukuri.
Ucapan ini memperlihatkan betapa kuatnya rasa ikhlas di tengah bencana.