“Kalau di Palestina kena peluru, gimana sedihnya?” tuturnya.
Kalimat itu seolah menegaskan bahwa luka mereka bukan yang paling parah di dunia.
Meski sama-sama menderita, ia merasa tragedi di Gaza jauh lebih memilukan.
Cara pandang ini membuat banyak orang terdiam.
Baca Juga: Dari Korban hingga Huntara, Ini Update Lengkap Penanganan Bencana Agam Sumatera Barat Versi BNPB
Di saat diri sendiri terluka, ia masih sempat memikirkan luka orang lain.
Masih Bisa Makan dan Minum, Itu Sudah Nikmat Besar
Pengungsi Aceh itu juga menyinggung soal bantuan yang mereka terima.
Di Aceh, meski serba terbatas, mereka masih bisa mendapatkan makanan.
“Di sini dapat makan, di sana kan anak-anak itu nggak dapat makan,” katanya.
Bahkan soal air minum, ia menyebut di Gaza anak-anak sampai minum dari pijakan kaki.
Sementara di Aceh, walau hanya air hujan atau air keruh, masih bisa diminum.
Baca Juga: Setengah Karung Dibayar Keringat, Kisah Warga Simaninggir Menjemput Bantuan Lewat Jalur Berbahaya
Bagi mereka, itu sudah jadi nikmat yang patut disyukuri.
Ucapan ini memperlihatkan betapa kuatnya rasa ikhlas di tengah bencana.
Artikel Terkait
Lonjakan Penumpang Kereta Api di Stasiun Tawang Semarang Saat Libur Nataru Capai 67.422 Orang
Relawan Bergerak dan Harapan Menyala, Inilah Komitmen Panjang BRI Bersama Danantara untuk Sumatera Bangkit
Bukan Sekadar Viral, Ini Kisah Nyata Ibu di Tapanuli Tengah Bertaruh Tenaga demi Sekantong Sembako
Info Warga Maluku! Jadwal Kapal Pelni KM Pangrango Bulan Januari 2026 Rute Ambon – Banda – Namrole - Saumlaki
Cek Disini! Info Jadwal Kapal Pelni KM Tilongkabila Periode Januari 2026, Lengkapi Lokasi Singgah!