“Kak, selimut satu,” ucap bocah itu, memohon dengan matanya yang polos.
Kalimatnya singkat, nyaris tak terdengar di tengah hiruk pikuk posko.
Para relawan spontan mengulurkan tangan untuk memberikan selimut yang diminta.
Permintaan itu terdengar sangat wajar, mengingat dinginnya malam pascabanjir.
Baca Juga: Mengenal Surabaya North Quay, Spot Tema Maritim Habiskan Tahun Baru di Kota Pahlawan
Tak ada yang menyangka, momen tersebut belum benar-benar selesai. Bocah itu belum beranjak pergi. Ia justru kembali menoleh dengan wajah ragu.
“Satu Lagi untuk Mamak” yang Menggetarkan
Saat para relawan bersiap melanjutkan pembagian bantuan, bocah itu kembali membuka suara.
“Satu lagi untuk mamak,” imbuhnya, menambahkan permintaannya yang sederhana namun bermakna mendalam.
Kalimat pendek itu seketika menghentikan langkah siapa pun yang mendengarnya.
Dalam kondisi serba kekurangan, bocah itu ternyata tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.
Ia lebih dulu memikirkan sang ibu. Di tengah dingin dan keterbatasan, kasih sayang seorang anak muncul begitu alami.
Tak sedikit relawan yang terdiam, menahan haru. Momen kecil itu terasa jauh lebih hangat daripada selimut mana pun.
Ketulusan Anak di Tengah Krisis