nasional

UMKM Naik Kelas, Bagaimana 'Faber Instrument' Menggandeng Masyarakat Lokal dan BRI untuk Meroket ke Dunia?

Selasa, 25 November 2025 | 19:45 WIB
UMKM Naik Kelas, Bagaimana 'Faber Instrument' Menggandeng Masyarakat Lokal dan BRI untuk Meroket ke Dunia?

KLIK SAJA - Inovasi kadang muncul dari tempat paling sederhana bahkan dari tumpukan limbah kayu jati yang dianggap tak berguna.

Dari situlah perjalanan Faber Instrument, UMKM kerajinan dari Cianjur, dimulai.

Dengan sentuhan tangan pengrajin lokal dan dukungan pemberdayaan BRI, Faber berhasil menjadikan limbah kayu sebagai produk audio bernilai seni tinggi yang kini diminati pasar internasional.

Dari dapur produksi rumahan hingga panggung global, inilah enam poin menarik yang bikin UMKM ini naik kelas.

Baca Juga: Beban Kerja KBRI Beijing Meningkat, dr Irene Resmi Diandalkan untuk Perkuat Hubungan Indonesia–China

1. Berawal dari Limbah Kayu Jati yang Diolah Jadi Produk Audio Bernilai Seni

Pendiri Faber Instrument, Helmi, melihat banyaknya limbah kayu jati yang terbengkalai di sekitarnya.

Alih-alih dibiarkan membusuk, ia mengolahnya menjadi speaker handcrafted dengan karakter suara hangat khas kayu alami.

Produk ini bukan sekadar perangkat audio; ia membawa cerita keberlanjutan dan kearifan lokal.

Dari bahan sisa menjadi karya, Faber membuktikan bahwa inovasi tak selalu datang dari material mahal yang penting adalah cara memaknainya.

2. Pengrajin Lokal Hingga Ibu Rumah Tangga Ikut Terlibat

Baca Juga: BRI Gaspol Diversifikasi Dari Payroll, KPR Tier-1, hingga Layanan Bank Emas Lewat Super App Tring

Faber tumbuh dengan prinsip “naik bersama warga sekitar.” Dalam proses produksi, mereka menggandeng pengrajin kayu Cianjur, ibu-ibu rumah tangga, hingga mitra lokal untuk pengerjaan bodi kayu, finishing, dan pengemasan.

Tim inti berjumlah 12 orang, sementara pengrajin dan mitra telah mencapai lebih dari 30 orang.

Halaman:

Tags

Terkini