KLIK SAJA - Isu redenominasi kembali naik ke permukaan setelah Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyinggungnya, membuat publik merasa déjà vu ekonomi.
Padahal, ide ini bukan barang baru tahun 2010 di era SBY wacana serupa sempat masuk RUU, tapi kemudian hilang seperti draft yang lupa disimpan.
Ekonom Anthony Budiawan mengingatkan bahwa pembahasan itu dulu mandek tanpa alasan jelas.
Kini, topik yang sama muncul lagi seolah diangkat dari rak lama yang berdebu.
Baca Juga: Lencana Polri di Mobil Kurir Ekstasi, Misteri Baru di Balik Jaringan Narkoba Lintas Provinsi
Bagi masyarakat, wajar bila muncul tanya: “Kenapa sekarang?” Alih-alih kekhawatiran, publik lebih banyak merasa heran seperti melihat film lama diputar ulang.
Fenomena ini kemudian memancing diskusi ulang tentang urgensi yang sebenarnya tidak pernah benar-benar terlihat.
Dari Dulu Tidak Ada Urgensi
Dalam podcast bersama Bambang Yudhoyono, Anthony tegas menyebut bahwa redenominasi tak punya alasan kuat.
“Di 2010 itu tidak ada urgensi untuk redenominasi, nah sekarang apakah ada? Tidak ada juga...” katanya, sambil menyinggung kurs rupiah yang dari Rp10.000 kemudian ke Rp16.000—menurutnya bukan perubahan yang membuat redenominasi mendesak.
Baca Juga: Dikiranya Besi, Ternyata Bom! Ini Dia 5 Fakta Mencekam di Balik Ledakan Mortir Bekasi
Ia menjelaskan bahwa redenominasi hanya relevan ketika inflasi melompat ratusan hingga ribuan persen dalam tempo singkat.
“Kapan sebuah mata uang perlu redenominasi?...”sehingga pemutusan mata rantai inflasi itu memang perlu.
Di kondisi Indonesia yang inflasinya relatif stabil, argumen urgensi ini terasa makin lemah. Publik pun banyak yang akhirnya bertanya-tanya: ini rencana serius atau hanya wacana lewat semata?
Artikel Terkait
Dari GOR Desa Sadananya ke Grup WhatsApp Jurnalis, Ledakan Arogansi Kades yang Bikin Heboh Jawa Barat
Bukan Sekadar Video Call! Apa Saja yang Dibahas Prabowo dan Starmer soal Maritim, Pendidikan, dan Dunia?
Koalisi Sipil Meradang! KUHAP Baru Disebut Membatasi Hak, Membuka Ruang Abuse, hingga ‘Jeruk Makan Jeruk’
Dari Surabaya ke Jakarta, Suhu Politik PBNU Menghangat: Fakta Lengkap Bantahan Gus Yahya!
Di Podium G20, Gibran Bicara Lantang Soal Makan Bergizi Gratis dan Ketahanan Pangan Indonesia