nasional

Kota Lama Semarang Bisa Jadi Lautan 2045, Apa Penyebab dan Solusinya?

Senin, 17 November 2025 | 03:10 WIB
Kota Lama Semarang Bisa Jadi Lautan 2045, Apa Penyebab dan Solusinya? (Instagram.com)

Bayangkan, tiap dekade, tanah semakin turun dan risiko tenggelam semakin nyata.

Pekalongan dan Demak bahkan lebih parah karena hilangnya mangrove dan abrasi pantai.

Tak hanya menenggelamkan bangunan, ini juga membuat infrastruktur rusak lebih cepat.

Jalanan, gedung, dan rumah jadi rentan. Warga yang dulu tinggal nyaman, kini harus waspada tiap musim hujan.

Baca Juga: Momen Hangat Prabowo dan Raja Abdullah II Saat Saksikan Aksi Drone Kontraterorisme di Jakarta

Masalah ini jelas membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat.

Pembangunan Tanpa Daya Dukung Lingkungan

Pemerintah dan pengembang punya peran besar dalam krisis ini. Sayangnya, pembangunan kawasan industri dan perumahan sering di atas kemampuan daya dukung ekologi.

Mangrove yang seharusnya menjadi pelindung alami kerap digusur.

Sungai tidak dinormalisasi, kolam retensi terbengkalai. Hasilnya? Air banjir tak bisa mengalir, gelombang rob bertambah tinggi, dan tanah makin ambles.

Seolah kota ini memanggil banjir untuk masuk. Fahmi mengingatkan, pembangunan tanpa memperhitungkan alam sama saja dengan menunda bencana.

Solusi Nyata: Mangrove dan Kolam Retensi

Baca Juga: Momen Hangat Prabowo dan Raja Abdullah II Saat Saksikan Aksi Drone Kontraterorisme di Jakarta

Tidak semua berita tentang banjir Semarang suram. Ada jalan keluar. Menurut Walhi, ekosistem mangrove perlu dikembalikan sebagai benteng alami pantai.

Sungai harus dinormalisasi supaya debit air bisa tertampung. Kolam retensi harus segera dibangun untuk menahan air berlebih.

Halaman:

Tags

Terkini