Bayangkan, tiap dekade, tanah semakin turun dan risiko tenggelam semakin nyata.
Pekalongan dan Demak bahkan lebih parah karena hilangnya mangrove dan abrasi pantai.
Tak hanya menenggelamkan bangunan, ini juga membuat infrastruktur rusak lebih cepat.
Jalanan, gedung, dan rumah jadi rentan. Warga yang dulu tinggal nyaman, kini harus waspada tiap musim hujan.
Baca Juga: Momen Hangat Prabowo dan Raja Abdullah II Saat Saksikan Aksi Drone Kontraterorisme di Jakarta
Masalah ini jelas membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat.
Pembangunan Tanpa Daya Dukung Lingkungan
Pemerintah dan pengembang punya peran besar dalam krisis ini. Sayangnya, pembangunan kawasan industri dan perumahan sering di atas kemampuan daya dukung ekologi.
Mangrove yang seharusnya menjadi pelindung alami kerap digusur.
Sungai tidak dinormalisasi, kolam retensi terbengkalai. Hasilnya? Air banjir tak bisa mengalir, gelombang rob bertambah tinggi, dan tanah makin ambles.
Seolah kota ini memanggil banjir untuk masuk. Fahmi mengingatkan, pembangunan tanpa memperhitungkan alam sama saja dengan menunda bencana.
Solusi Nyata: Mangrove dan Kolam Retensi
Baca Juga: Momen Hangat Prabowo dan Raja Abdullah II Saat Saksikan Aksi Drone Kontraterorisme di Jakarta
Tidak semua berita tentang banjir Semarang suram. Ada jalan keluar. Menurut Walhi, ekosistem mangrove perlu dikembalikan sebagai benteng alami pantai.
Sungai harus dinormalisasi supaya debit air bisa tertampung. Kolam retensi harus segera dibangun untuk menahan air berlebih.
Artikel Terkait
Prabowo Terima Penghargaan Tertinggi Yordania: Cerita Hangat di Balik Bejeweled Grand Cordon Al-Nahda
Natalius Pigai: Semua Menteri Gajinya Sama, Jadi Uang Tambahnya dari Mana?
Teuku Nasrullah Sentil Aparat, Kritik Ijazah untuk Kepentingan Umum Bukan Alasan Memakai Pasal Sembarangan
Kasus Petral Bangkit Lagi: 20 Saksi Diperiksa, Mahfud dan Sudirman Kirim Sinyal Keras untuk Mafia Migas
Bagaimana 494 Kotak Udang Bisa Tercemar Cs-137? Ini Penjelasan Lengkapnya!