KLIK SAJA - Bayangkan, berjalan-jalan di Kota Lama Semarang nanti bisa saja sambil pakai perahu.
Itu bukan fantasi, tapi prediksi serius dari Walhi Jawa Tengah. Direktur Fahmi Bastian mengatakan jika kondisi pesisir utara Jateng tak diperbaiki, Kota Lama bisa tenggelam pada 2045.
Faktor utamanya? Penurunan muka tanah atau land subsidence yang tiap tahun terus bertambah.
Dari Semarang sampai Demak, tanda-tanda sudah terlihat seperti banjir panjang, rob yang semakin sering, dan tanah yang ambles.
Baca Juga: Trump Beli Obligasi Rp1,3 Triliun, Timbul Kekhawatiran Soal Konflik Kepentingan
Ini bukan soal hujan deras semata, tapi ekosistem yang tak lagi sehat. Jadi, siap-siap melihat masa depan Kota Lama berbeda dari yang kita kenal.
Banjir dan Rob, Kombinasi Mematikan
Banjir bukan cuma soal hujan. Di Semarang, rob atau pasang air laut menambah “beban” banjir yang datang dari sungai.
Fahmi menekankan, sungai-sungai di Mijen, Ngaliyan, dan sekitarnya sudah tak sanggup menampung air kiriman.
Belum lagi proyek tanggul laut yang belum tuntas. Akibatnya? Air menggenang, aktivitas warga terganggu, dan ekonomi lokal ikut terhenti.
Baca Juga: Dari Sekolah ke Galeri Nasional, Kisah Dewi Wardah dan Pundi Craft yang Menguat Berkat BRI
Ini bikin Semarang terasa seperti kota yang ‘terjebak’ air dari hulu sampai laut. Memang, kota ini butuh solusi nyata, bukan cuma harapan.
Land Subsidence: Tanah Semarang ‘Menyusut’
Fenomena tanah ambles atau land subsidence di Semarang tercatat 8–12 cm per tahun.
Artikel Terkait
Prabowo Terima Penghargaan Tertinggi Yordania: Cerita Hangat di Balik Bejeweled Grand Cordon Al-Nahda
Natalius Pigai: Semua Menteri Gajinya Sama, Jadi Uang Tambahnya dari Mana?
Teuku Nasrullah Sentil Aparat, Kritik Ijazah untuk Kepentingan Umum Bukan Alasan Memakai Pasal Sembarangan
Kasus Petral Bangkit Lagi: 20 Saksi Diperiksa, Mahfud dan Sudirman Kirim Sinyal Keras untuk Mafia Migas
Bagaimana 494 Kotak Udang Bisa Tercemar Cs-137? Ini Penjelasan Lengkapnya!