Setelah dibakar, sisa abunya akan disolidifikasi dan dibuang ke landfill.
Dalam situasi yang rawan membuat publik panik, pemerintah memilih pendekatan hati-hati dan bertahap. Semuanya dilakukan agar publik tetap merasa aman.
Karena Kapasitas Terbatas, Pemusnahan Dilakukan Bertahap
Meski total udang yang dimusnahkan cukup besar, prosesnya tak bisa dilakukan sekaligus.
Kapasitas insinerator yang hanya sanggup mengolah sekitar 1 ton membuat pemusnahan dibagi menjadi beberapa tahap.
“Setiap proses itu akan dilakukan beberapa tahap. Satu kali proses itu sekitar empat jam, kita akan musnahkan hari ini 1 ton kemudian akan kita lanjutkan,*” ujarnya.
Proses bertahap ini menegaskan bahwa keselamatan lebih penting daripada kecepatan.
Publik pun bisa melihat bahwa pemerintah tidak terburu-buru, karena setiap tahap harus dipastikan aman.
Di sisi lain, kasus ini mengingatkan kita bahwa pengawasan limbah dan produk pangan punya tantangannya sendiri.
Bahkan satu ton demi satu ton pun membutuhkan hitungan presisi.
Kilas Balik Kasus Cs-137: Dari Peringatan FDA hingga Dugaan Pelanggaran Limbah
Baca Juga: 1,2 Juta AgenBRILink Jadi Penopang Ekonomi Desa, Transaksi Tembus Rp1.294 Triliun
Kasus ini pertama muncul setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menemukan dugaan pencemaran radioaktif pada udang beku Indonesia yang dijual di Walmart.
Dari empat pelabuhan Los Angeles, Houston, Savannah, hingga Miami FDA memberi peringatan kepada warga agar membuang produk tersebut.