Di DPRD Banyuwangi, Suara Warga Menggema: CSR Harus Dibuka, Bukan Disembunyikan

photo author
- Sabtu, 15 November 2025 | 06:30 WIB
Di DPRD Banyuwangi, Suara Warga Menggema: CSR Harus Dibuka, Bukan Disembunyikan (Suasana hearing di Ruang Rapat Khusus DPRD Banyuwangi saat warga dari berbagai daerah menyampaikan aspirasi terkait tambang PT BSI. Rapat yang dipimpin pimpinan dewan itu berlangsung hangat dan penuh dialog antara masyarakat, DPRD, dan perwakilan perusahaan / Dok.istimewa)
Di DPRD Banyuwangi, Suara Warga Menggema: CSR Harus Dibuka, Bukan Disembunyikan (Suasana hearing di Ruang Rapat Khusus DPRD Banyuwangi saat warga dari berbagai daerah menyampaikan aspirasi terkait tambang PT BSI. Rapat yang dipimpin pimpinan dewan itu berlangsung hangat dan penuh dialog antara masyarakat, DPRD, dan perwakilan perusahaan / Dok.istimewa)

KLIK SAJA - Hearing lanjutan soal tambang PT BSI kali ini terasa seperti momen ketika semua unek-unek warga akhirnya dapat tempat untuk keluar.

Ruang Rapat Khusus DPRD Banyuwangi mendadak jadi ruang pengakuan massal penuh suara, penuh keresahan, penuh warga yang ingin didengar.

Mereka datang dari Pesanggaran hingga wilayah lain, membawa cerita yang selama ini tak tersampaikan.

Bukan hanya soal tambang, tapi soal rasa ditinggalkan. Rapat dipimpin oleh Wakil Ketua DPRD Michael Edy Hariyanto didampingi Patemo dan Suwito, yang tampak bersiap menerima lontaran pertanyaan lebih pedas dari kopi pagi.

Baca Juga: Kasus Keracunan MBG Melonjak, DPR dan Pemerintah Perkuat Pengawasan Apa Saja Temuannya?

Kehadiran perwakilan PT BSI pun tak otomatis mendinginkan suasana. Justru, tensi naik sejak menit pertama.

Warga yang Sudah Terlalu Lama Merasa Jadi Penonton di Rumah Sendiri

Aspirasi warga mengalir deras seperti hujan yang tak mau berhenti.

Mereka mempertanyakan kenapa tambang ada, suara mesin ada, truk lewat setiap hari, tapi kesejahteraan tidak ikut lewat ke rumah warga sekitar?

Pertanyaan itu sederhana, tapi menggigit. Mereka menyoroti gap antara aktivitas tambang yang masif dan kondisi masyarakat ring satu yang dinilai belum “naik kelas” sebagaimana janji-janji awal.

Banyak warga merasa daerah mereka hanya jadi halaman belakang dari sebuah proyek besar tanpa akses ke ruang tamunya.

Baca Juga: Dari Gudang Gelap hingga Kebijakan Baru, Drama Panjang Baju Impor Ilegal dan Langkah ‘Cacah, Bukan Bakar’ ala Purbaya

Suasana rapat pun berubah menjadi panggung tuntutan yang sah dan mewakili suara orang banyak.

Bagi warga, ini bukan soal uang semata, tapi soal rasa mendapatkan haknya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dita Nilan Karlasari

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X