Tangannya sering melepuh terkena cipratan minyak, tapi ia tetap berusaha.
Ia bahkan bertanya, “Wangi nggak? Matang nggak?” dan Dimas selalu menjawab, “Sempurna, Bu.”
Bukan karena benar, tapi karena tak ingin melukai hati ibunya.
Di situlah semua orang tersadar, ini bukan soal masakan, tapi soal cinta.
Ayam Gosong yang Lebih Mahal dari Nasi Kantin
Guru itu menawarkan nasi kuning dari kantin, tapi bagi Dimas, itu bukan pilihan.
Membuang bekal berarti membuang perjuangan ibunya sendiri.
Ayam gosong itu mungkin tak sehat di mata orang lain, tapi penuh makna di hati seorang anak.
Setiap gigitan adalah bentuk terima kasih dan bakti.
Ia memakannya sambil menangis, tapi tetap berkata, “Enak… masakan Ibu enak.”
Di momen itu, tak ada lagi ejekan, hanya keheningan dan rasa haru.
Semua sadar, nilai sebuah makanan tak bisa diukur dari rupa saja.
Pelajaran tentang Cinta yang Tak Terlihat Mata
Artikel Terkait
Kemandirian Daerah dan Edukasi Publik, Strategi Pemerintah yang Ditunjukkan Teddy Indra Wijaya Pascabanjir
Ruang Terbuka, Pantai, dan Kota Lama, Spot Terbaik Nonton Kembang Api Tahun Baru 2025 di Semarang
Pesantren Selamatkan Warga dari Banjir, Anies Baswedan dan Arie Untung Soroti Peran Darul Mukhlisin
Polri Pastikan Gereja dan Posko Ibadah Aman Jelang Natal di Sumut, Warga Bisa Beribadah Tenang Pascabencana
Kearifan Lokal Selamatkan Hidup, Air Sungai di Aceh Tamiang Disaring Warga Jadi Layak Guna