Di titik itu, sang guru merasa harus turun tangan.
Niatnya untuk melindungi murid dari makanan yang dianggap berbahaya.
Tapi niat baik itu ternyata membuka luka yang lebih dalam.
Saat Kotak Bekal Diambil, Air Mata pun Tumpah
Ketika kotak bekal itu diambil dan hendak dibuang, Dimas langsung menahan dengan cengkeraman kuat.
Matanya memerah, air mata menggenang, dan teriakan “Jangan, Pak!” membuat kelas mendadak hening.
Ia bukan sekadar mempertahankan makanan, tapi sesuatu yang jauh lebih berarti.
Guru itu terkejut melihat reaksi sekuat itu dari anak yang biasanya diam. Amarah berubah jadi kebingungan.
Apa yang sebenarnya membuat Dimas begitu takut kehilangan ayam gosong itu?
Pengakuan tentang Ibu yang Tak Bisa Melihat
Dengan suara bergetar, Dimas akhirnya berkata bahwa ibunya buta.
Matanya rusak karena kecelakaan pabrik bertahun lalu.
Setiap pagi jam empat, sang ibu meraba kompor panas demi memasak bekal untuk anaknya.
Artikel Terkait
Kemandirian Daerah dan Edukasi Publik, Strategi Pemerintah yang Ditunjukkan Teddy Indra Wijaya Pascabanjir
Ruang Terbuka, Pantai, dan Kota Lama, Spot Terbaik Nonton Kembang Api Tahun Baru 2025 di Semarang
Pesantren Selamatkan Warga dari Banjir, Anies Baswedan dan Arie Untung Soroti Peran Darul Mukhlisin
Polri Pastikan Gereja dan Posko Ibadah Aman Jelang Natal di Sumut, Warga Bisa Beribadah Tenang Pascabencana
Kearifan Lokal Selamatkan Hidup, Air Sungai di Aceh Tamiang Disaring Warga Jadi Layak Guna