Ia adalah cermin bahwa di balik setiap bencana, ada luka kecil yang sering luput dari perhatian, luka anak-anak.
Dari tenda pengungsian, mereka mengajarkan kita arti kehilangan dengan cara yang paling jujur dan polos.
Tidak dengan air mata berlebihan, tapi dengan kalimat sederhana yang menancap di hati.
Semoga cerita ini tak hanya membuat kita terharu, tapi juga tergerak untuk peduli.
Baca Juga: Setengah Karung Dibayar Keringat, Kisah Warga Simaninggir Menjemput Bantuan Lewat Jalur Berbahaya
Karena di balik lumpur dan puing, masih ada harapan yang perlu kita jaga bersama.
Harapan agar mereka bisa kembali menemukan “rumah”, dalam arti yang sesungguhnya.***
Artikel Terkait
Dari Cangkul hingga Doa, Ini Kisah Haru Warga Pidie Jaya Membersihkan Lumpur Pascabanjir Bandang
Info Penting! Jadwal dan Tarif Kapal Pelni KM Lambelu Bulan Januari 2026, Lengkapi Lokasi Singgah!
Sindiran hingga Sumpah Serapah, Ini 5 Potret Protes Warga Aceh Tamiang Terhadap Dugaan Mafia Kayu
Danantara dan BRI Turun Tangan Salurkan Bantuan dan Pulihkan Harapan Warga Aceh Tamiang
Sambut Libur Nataru! Begini Cara Pelni Semarang Pastikan Seluruh Kapal Laut, Siap Antar Penumpang Aman dan Nyaman