Dengan suara lirih, mereka mengucap bahwa rumah itu sudah rusak dan tak lagi berdiri.
Dari kalimat sederhana itu, terasa betapa besar kehilangan yang mereka rasakan.
Sebuah kehilangan yang mungkin belum sepenuhnya mereka pahami, tapi sudah cukup membuat hati siapa pun terenyuh.
Dua Rumah, Dua Kenangan, Semua Lenyap Seketika
Baca Juga: Jangan Salah Niat! Ini Hukum Puasa Rajab Sekaligus Qadha Ramadhan Menurut Ulama
Kesedihan makin terasa saat salah satu bocah menyebut bahwa bukan hanya satu, tapi dua rumah keluarga mereka yang hancur.
Dua bangunan yang sebelumnya menjadi tempat berlindung kini rata dengan lumpur dan puing.
Bagi orang dewasa, itu mungkin soal aset dan kerugian materi.
Namun bagi anak-anak, itu berarti dua dunia kecil mereka lenyap dalam satu peristiwa.
Tidak ada lagi sudut rumah untuk bersembunyi saat bermain, atau ruang kecil untuk bercerita sebelum tidur.
Semua kenangan itu seolah ikut hanyut bersama derasnya air banjir.
Mereka hanya bisa mengenang lewat cerita singkat yang diucapkan dengan polos.
Dari situ kita tahu luka mereka lebih dalam dari yang terlihat.
Dari Hangat Rumah ke Dingin Tenda Pengungsian
Artikel Terkait
Dari Cangkul hingga Doa, Ini Kisah Haru Warga Pidie Jaya Membersihkan Lumpur Pascabanjir Bandang
Info Penting! Jadwal dan Tarif Kapal Pelni KM Lambelu Bulan Januari 2026, Lengkapi Lokasi Singgah!
Sindiran hingga Sumpah Serapah, Ini 5 Potret Protes Warga Aceh Tamiang Terhadap Dugaan Mafia Kayu
Danantara dan BRI Turun Tangan Salurkan Bantuan dan Pulihkan Harapan Warga Aceh Tamiang
Sambut Libur Nataru! Begini Cara Pelni Semarang Pastikan Seluruh Kapal Laut, Siap Antar Penumpang Aman dan Nyaman