Tak lama kemudian, ia kembali memohon dengan penuh harap, "Doakan semoga perjalanan kami aman-aman, tidak ada bahaya," pungkasnya.
Doa itu terasa begitu tulus dan menyentuh.
Ia sadar bahwa keselamatan adalah hal paling berharga di tengah kondisi tak menentu.
Kisah ini menjadi pengingat betapa sulitnya distribusi bantuan di wilayah pascabencana.
Satu paket sembako harus ditebus dengan perjalanan kaki berjam-jam dan doa tanpa henti.
Baca Juga: Yuk Kenali Lokasi Sebaran 56 Pasar Tumpah di Pulau Jawa Jelang Libur Nataru 2025
Kisah ibu dari Tapanuli Tengah ini bukan sekadar cerita viral, tapi potret nyata perjuangan warga di wilayah terdampak bencana.
Di balik sekantong sembako, ada langkah panjang, keringat, dan doa yang tak terhitung.
Semoga cerita ini membuka mata banyak pihak bahwa bantuan bukan hanya soal memberi, tapi juga memastikan bisa dijangkau dengan aman.***
Artikel Terkait
Ramai Ijazah Jokowi di Polda Metro Jaya, Roy Suryo Tegaskan Hanya Diperlihatkan, Bukan Diperiksa
Wujud Hadirnya Negara, Danantara dan BP BUMN Lepas Ribuan Relawan dan Ratusan Truk Bantuan ke Sumatera
Tak Tinggal Diam, Danantara dan BP BUMN Kirim 1.066 Relawan Dampingi Warga Terdampak Bencana
Dari Sabu 4 Ton hingga 224 Ribu Batang Ganja, Ini Hasil Perang BNN Lawan Narkoba di 2025
Danantara dan BRI Kerahkan 1.066 Relawan, Aksi Besar Bantu Korban Bencana Sumatera