Pohon-pohon berdiameter sekitar 1,5 meter itu, menurutnya, jelas tidak mungkin ditebang dalam waktu sekilas.
“Ini manusia mana di Indonesia ini yang seenaknya aja bisa motong-motong kayu seperti itu?” tanya Titiek.
Sorotan ini bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal nurani.
Ia melihat fenomena tersebut sebagai bentuk ketidakpedulian yang menyentuh urat moral masyarakat luas.
Baca Juga: PT Toba Pulp Lestari Milik Siapa? Apa Hubungannya dengan Bencana Banjir dan Longsor di Sumatra?
Dua Hari Setelah Banjir, Truk Kayu Melintas
Salah satu poin yang paling menyakitkan bagi Titiek adalah fakta bahwa truk-truk tersebut melintas hanya dua hari setelah banjir bandang.
Baginya, momen itu menunjukkan sikap yang tidak hanya tidak peka, tetapi juga seperti mengejek penderitaan warga.
“Sungguh menyakitkan Pak Menteri, ini suatu kalau orang Jawa bilang ngece (mengejek), perusahaan ini mengejek gitu,” kata Titiek.
Ia menggambarkan bahwa pemandangan itu terasa seperti luka baru di tengah masyarakat yang masih berusaha bangkit.
Bagi warga yang baru kehilangan rumah, ternak, bahkan anggota keluarga, melihat truk kayu lewat seolah menjadi simbol bahwa alam terus dieksploitasi tanpa jeda.
Titiek menilai bahwa tindakan ini harus segera dihentikan agar tragedi tidak terus berulang di masa depan.
Menurutnya, inilah saatnya pemerintah menunjukkan keberpihakan nyata kepada warga yang terdampak.
Titiek Desak Menteri Kehutanan
Artikel Terkait
Kereta Hijau untuk Petani dan Pedagang, Inovasi KAI yang Bikin Mobilitas Usaha Rakyat Jadi Lebih Ringan
Internet, Telepon, SMS Gratis! Telkomsel Beberkan Langkah Cepat Pulihkan Layanan di Tiga Provinsi Terdampak
Dari Kerusakan Hulu hingga Tata Ruang Amburadul, Begini Alasan Cak Imin Minta Evaluasi Total Kebijakan!
Sido Muncul Salurkan Bantuan Rp900 Juta dari Sumbar hingga Aceh, Bukti Kepedulian yang Tak Pernah Padam
Alasan Mengapa Pemerintah Belum Tetapkan Status Darurat Bencana Nasional di Aceh dan Sumatra Utara