Bersamaan dengan turunnya harga pupuk, pemerintah juga menetapkan HPP Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Kebijakan ini tak hanya berlaku untuk Bulog, tetapi juga untuk seluruh penggilingan padi.
Hasilnya, Kombinasi yang jarang terjadi karena pupuk lebih murah, gabah lebih mahal.
Uki merasakan betul manfaat ini, dulu harga pupuk dan padi nyaris seimbang, membuat petani seperti sekadar bekerja untuk menutup biaya.
Baca Juga: Resmi Ditahan KPK! Vendor Fiktif, Office Boy Jadi Kedok, dan Korupsi Rp46,8 Miliar di PT PP
Kini, selisih margin mulai muncul, memberi ruang bagi petani untuk bernapas lebih lega.
“Ada kelebihan sedikit untuk petani,” ujarnya.
Sesederhana itu kalimatnya, tapi besar maknanya.
Kenaikan HPP ini menjanjikan panen yang tak hanya menghasilkan beras, tapi juga peluang.
Stok Pupuk Lancar, Penebusan Makin Mudah
Salah satu perubahan paling dirayakan petani adalah stok pupuk yang kini melimpah.
Tak ada lagi cerita petani menunggu truk pupuk datang seperti menunggu hujan di musim kemarau.
Baca Juga: Setelah Rehabilitasi Presiden, KPK Angkat Tangan: Ini 7 Fakta Panas di Balik Kasus ASDP
Selama mereka masuk RDKK dan terdaftar di Simluhtan, proses penebusan jadi sangat mudah.
Uki menceritakan bagaimana sekarang ia cukup membawa KTP ke kios, dan jumlah pupuk yang bisa ia tebus langsung muncul di sistem.
Artikel Terkait
Purbaya Siapkan Sanksi Berat, Ekonom Anthony Beri Dukungan: 'Ini Saatnya Industri Bangkit'!
Terperangkap Amarah, Polisi Ungkap Motif Penculikan dan Pembunuhan Alvaro dari Ponsel Pelaku
DPR Beberkan Kecurangan BBM, Pelangsiran Terstruktur dan Mobil Mewah Ikut Nikmati Subsidi!
Beban Kerja KBRI Beijing Meningkat, dr Irene Resmi Diandalkan untuk Perkuat Hubungan Indonesia–China
UMKM Naik Kelas, Bagaimana 'Faber Instrument' Menggandeng Masyarakat Lokal dan BRI untuk Meroket ke Dunia?