Itu sebabnya Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tidak akan berpuas diri, karena skala ini membutuhkan kesabaran dan ketelitian.
Bahkan ketika warga menyampaikan keluhannya “Pak, saya belum dapat” jawabannya tetap sama sabar, karena ini uang rakyat dan harus dikelola dengan rapi.
Ada rasa jujur dan manusiawi dalam pernyataan itu bahwa negara sedang berlari, tetapi tetap berhati-hati.
Tidak Semua Setuju, dan Itu Baik-Baik Saja
Prabowo mengakui bahwa masih ada orang yang tidak sepenuhnya senang dengan MBG.
Ini menarik, karena pengakuan seperti ini biasanya tidak muncul dalam program besar pemerintah.
Namun ia menyampaikan bahwa sebagian besar masyarakat, terutama guru dan murid, merasakan manfaat langsung.
Dari sudut pandang humanis, program ini tidak memaksa semua orang untuk setuju yang penting manfaatnya nyata.
Kalaupun ada kritik, itu dianggap wajar sebagai bagian dari demokrasi yang hidup.
MBG Bukan Sekadar Makan Gratis Tapi Investasi Tubuh dan Otak Anak Bangsa
Ada satu bagian yang cukup menyentuh ketika Prabowo mengatakan manfaat gizi itu tidak hanya hari ini, tetapi puluhan tahun ke depan.
Anak-anak yang lebih tinggi, otot yang lebih kuat, tulang yang kokoh, hingga sel otak yang lebih cerdas semua itu adalah efek berantai yang bisa mengubah masa depan.
Ini membuat MBG terasa bukan sekadar kebijakan populis, tetapi strategi besar membangun SDM sejak usia dini.
Artikel Terkait
Info Wong Palembang! Operasi Zebra Musi 2025 Pada 17-30 November, Cek Lokasi Razia dan Prioritas Penindakan Pelanggaran
Info Warga Banjarmasin! Operasi Zebra Intan 2025 Pada 17-30 November, Cek Lokasi Razia dan Daftar Prioritas Penindakan
TRING! Dikeluhkan Pengguna Dari Error Luar Negeri sampai OTP Ngadat
Dari Media Sosial hingga Istana, Rehabilitasi Dua Guru Akhirnya Diputuskan
Turun ke Akar Rumput, Seskab Teddy Jadi Simbol Baru Birokrasi Humanis