Hingga pertengahan 2025, kapasitas pembangkit listrik nasional Indonesia telah mencapai 105 GW, dengan porsi energi terbarukan sebesar 15 persen.
Dukungan Indonesia tidak hanya pada penyediaan energi, melainkan juga peningkatan kualitas SDM.
Dua politeknik di bawah Kementerian ESDM, Politeknik Energi dan Mineral Akamigas Cepu serta Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung, disiapkan untuk memperkuat kapasitas tenaga kerja sektor energi di kedua negara.
Pertemuan ini juga membuka peluang kerja sama di berbagai bidang, mulai dari pembangunan infrastruktur energi, pembangkit listrik baru, proyek minyak dan gas bumi, hingga pengembangan energi terbarukan.
Baca Juga: Jepang Kaji Aturan Penggunaan Ponsel Hanya 2 Jam Sehari
"Melalui sinergi kedua negara, kita dapat memastikan ketahanan energi, mendorong keberlanjutan," tambah Dadan.
Sementara itu, Secretary of Power Division of Bangladesh Farzana Mamtaz menilai Indonesia sebagai mitra penting dalam memperkuat sektor kelistrikan dan energi Bangladesh.
"Permintaan energi kami terus meningkat, yang membutuhkan inovasi dalam negeri dan kemitraan internasional yang lebih kuat.
Baca Juga: Wapres Gibran: Pembangunan IKN Nusantara Pasti Lanjut dan Selesai
Dalam konteks ini, Indonesia berdiri sebagai mitra, negara yang kaya akan sumber daya energi dan keahlian teknologi, serta sahabat terpercaya di Asia," ungkap Mamtaz.
Bangladesh sendiri telah mengadopsi Renewable Energy Policy 2025 dengan target 20 persen energi terbarukan pada 2030 dan 30 persen pada 2040.
Berbagai proyek PLTS atap dan angin pesisir tengah digarap, dan menurut Mamtaz, pengalaman Indonesia akan membantu mempercepat pencapaian target tersebut.***
Artikel Terkait
Cirebon Memanas! Bakal Ada Aksi Besar Penolakan Kenaikan PBB-P2 Sebesar 1000 Persen
Cek Jadwal dan Mekanisme Penyaluran Bansos Beras 10 KG di Bulan Agustus 2025
KPK OTT Wamenaker Ebenezer Immanuel Terkait Pemerasan Sertifikasi K3
Mengenal Jenis Sertifikasi K3 di Indonesia, Wajib Dipenuhi Untuk Keselamatan Kerja
BRI Catatkan Kinerja Positif di Tengah Tantangan Ekonomi Global