Hidup dalam Keterbatasan Sejak Kecil
Cobaan hidup Hendi tidak hanya berhenti di situ.
Ia kehilangan ibunya sejak usia 9 tahun, membuat hidupnya berubah drastis.
Sejak saat itu, ia dan adiknya hidup dalam kondisi yang serba terbatas.
Neneknya harus mengumpulkan sisa karet untuk dijual demi menambah penghasilan.
Sementara kakeknya bekerja sebagai juru kunci makam dengan penghasilan seadanya.
Dalam kondisi seperti itu, pendidikan menjadi sesuatu yang sulit dijangkau.
Titik Balik Lewat Sekolah Rakyat
Kesempatan baru datang ketika Hendi diterima di Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen.
Program ini membuka kembali akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Kini, Hendi kembali mengenakan seragam dan duduk di bangku sekolah.
Baca Juga: Karnaval Paskah 2026 di Semarang, Perpaduan Spiritualitas, Kreativitas, dan Kebersamaan Warga
Ia kembali belajar, sesuatu yang sebelumnya terasa hampir mustahil.
Sekolah ini menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya.