Akibatnya, tidur jadi lebih larut dari yang direncanakan.
Bangun pagi terasa lebih berat. Pola ini sering dianggap biasa, padahal efeknya nyata.
4. Pikiran Lebih Aktif Meski Tubuh Ingin Istirahat
Menjelang bulan ibadah, banyak orang mulai lebih reflektif.
Baca Juga: 5 Spot Kuliner Ramadhan Terpopuler di Boyolali, Cocok untuk Ngabuburit
Pikiran tentang target puasa, ibadah, dan pekerjaan sering muncul saat malam.
Tubuh sebenarnya lelah, tapi otak masih aktif. Kondisi ini membuat tidur tidak nyenyak meski mata terpejam lama.
Bangun tidur terasa seperti belum istirahat. Ini bukan insomnia, tapi tanda pikiran belum benar-benar rileks.
Mengendurkan ekspektasi bisa membantu kualitas tidur membaik.
5. Tubuh Sedang Menyesuaikan Ritme Baru
Pola tidur yang berantakan menjelang Ramadhan sering kali bagian dari proses adaptasi.
Tubuh sedang mencoba memahami perubahan yang akan datang.
Baca Juga: Panduan Kuliner Ramadhan Kabupaten Klaten: Harga, Jam Buka, dan Tips Hemat
Sayangnya, adaptasi ini sering terjadi terlalu cepat dan tidak bertahap.
Akibatnya, tubuh terasa lelah sebelum waktunya. Memberi jeda dan transisi perlahan jauh lebih membantu.