Ketika banyak musisi tunduk pada tekanan kolonial, Ismail justru menolak menjadi kolaborator.
Di masa penjajahan Jepang, ia menciptakan lagu yang mengobarkan semangat rakyat. Di masa kemerdekaan, lagunya menjadi suara perayaan kebebasan.
Konsistensinya membuat Soekarno menganugerahinya bintang jasa Wijaya Kusuma.
Ismail Marzuki telah menciptakan sekitar 200 lagu sepanjang hidupnya. Meski sempat dikritik soal orisinalitas dan teknik komposisi, ia tetap dikenang sebagai legenda.
Pada 2004, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Namanya diabadikan dalam Taman Ismail Marzuki, sebuah pusat kesenian yang terus hidup dan berkembang hingga kini.
Lebih dari sekadar komponis, Ismail Marzuki adalah suara zaman, suara rakyat, dan simbol perlawanan melalui melodi.
Ia adalah bukti bahwa cinta tanah air bisa diwujudkan lewat nada-nada yang menyentuh hati. Makasih ye Bang Maing!.***