Mengenal Ismail Marzuki, Sang Musisi Betawi Anti Kolonial

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 20 April 2025 | 09:29 WIB
Potret Ismail Marzuki (wikipedia)
Potret Ismail Marzuki (wikipedia)

KLIK SAJA - Ismail Marzuki, atau akrab disapa Bang Maing, bukan hanya sekadar seorang komponis ulung Indonesia—ia adalah simbol suara rakyat, semangat perjuangan, dan bukti bahwa musik bisa menjadi senjata dalam melawan penjajahan.

Lagu-lagu ciptaannya yang bermacam genre hingga kini masih sangat relevan diperdengarkan, seolah pesannya selalu dapat diterima lintas generasi.

Lahir di Jakarta pada 11 Mei 1914 dari keluarga Betawi berada, Ismail tumbuh dalam lingkungan yang memprioritaskan pendidikan dan nilai-nilai moral.

Ayahnya, Marzuki, berharap anaknya meniti jalan mapan sebagai pegawai kantoran, bukan sebagai seniman. Namun hidup punya cara sendiri.

Meski dibesarkan dengan disiplin pendidikan Barat di HIS dan MULO, serta pendidikan agama melalui madrasah, bakat musik Ismail tumbuh secara alami sejak kecil.

Kedekatannya dengan piringan hitam, alat musik, dan kebiasaan mendengarkan lagu sejak usia dini adalah warisan tidak langsung dari sang ayah yang juga pecinta musik gambus.

Ismail sempat diarahkan menjadi kasir, tapi ia justru merasa lebih hidup ketika bekerja sebagai penjual alat musik dan piringan hitam.

Di sanalah awal mula ia mengenal banyak musisi, dan akhirnya bertemu Hugo Dumas, pemimpin orkes terkenal Lief Java.

Dari grup musik inilah Ismail masuk ke dunia profesional—memainkan banjo, menyanyi, hingga mengaransemen ulang lagu-lagu Barat, Melayu, dan keroncong.

Namun puncak karier Ismail bukan hanya soal musikalitas, tapi juga keberaniannya menciptakan karya-karya yang penuh muatan nasionalisme.

Di tengah popularitas musik Amerika Latin seperti cha-cha dan foxtrot, Ismail hadir dengan lagu-lagu berjiwa perlawanan.

Salah satunya adalah “Sepasang Mata Bola”, yang ia tulis dalam kereta menuju Yogyakarta saat daerah itu menjadi titik panas pertempuran melawan Belanda tahun 1946.

Bahasa lirik Ismail selalu lugas, mudah diingat, dan dekat dengan rakyat. Itulah yang membuat lagu-lagunya abadi. Dari “Halo-Halo Bandung”, “Rayuan Pulau Kelapa”, hingga “Indonesia Pusaka”, setiap liriknya menjadi bagian dari memori kolektif bangsa.

Tak hanya lagu perjuangan, Ismail juga menciptakan lagu-lagu romantis dan jenaka yang tak lekang oleh waktu. “Juwita Malam”, “Sabda Alam”, dan “Hari Lebaran” adalah bukti bahwa karya Ismail mampu menembus berbagai suasana dan tema kehidupan masyarakat Indonesia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X